Makassar (ANTARA) - Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko mengirimkan bantuan logistik guna mendukung tugas tim SAR gabungan yang melakukan pencarian para korban dalam operasi SAR usai kecelakaan pesawat ATR 42-500 di pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

"Hari ini sudah terkirim lima ton, seharusnya enam ton. Tetapi, kemampuan pesawat CN (pesawat angkut) itu maksimal 6 ton. Tadi, sudah sampai di lokasi. Ini berupa ransum tempur," ujarnya saat meninjau persiapan identifikasi di Posko DVI Biddokes Polda Sulsel, Jalan Kumala Makassar, Selasa.

Pangdam menjelaskan bantuan logistik tersebut ada tiga macam ransum tempur. Pertama adalah Eprocal, Eprocal biasanya bersifat minuman atau asupan makanan, ada kopi, susu, maupun sereal.

Baca juga: Basarnas paparkan Operasi SAR hari ke-4 pencarian pesawat ATR

Kedua adalah Naraga. Naraga ini adalah makanan yang cukup mengenyangkan dan sering digunakan di daerah operasi, serta daya tahannya cukup lama. Logistik ini bisa langsung dimakan, siap saji maupun disiapkan terlebih dahulu.

"Ketiga isinya adalah pemanas, di situ (lapangan) bisa digunakan untuk memasak Naraga," papar mantan Panglima Divisi Infanteri 3/Kostrad ini menjelaskan.

Pengiriman logistik tersebut nantinya dibawa helikopter untuk mengantarkan apabila cuaca membaik dan sudah dapat terbang di lokasi pencarian tim SAR gabungan pada wilayah pegunungan Bulusaraung.

"Kita sudah rencanakan titik-titik, istilah kita adalah titik penimbunan logistik. Sehingga, apabila tim ini tidak berhasil turun atau mungkin harus bermalam di atas, mereka tidak akan kekurangan logistik," ujarnya.

Ransum militer ini disiapkan pada titik-titik yang ditentukan pada jalur operasi guna menjamin kebutuhan makanan tim SAR apabila bermalam di lokasi ekstrem, mengingat kondisi cuaca di atas gunung tidak menentu.

Hal kedua dari sisi perlengkapan. Tim SAR telah dilengkapi peralatan keselamatan, yakni jas hujan, helm dan peralatan pendukung agar bertahan di gunung tidak terkena serangan hipotermia.

"Kemudian, untuk alat kendali (alat komunikasi), ini sangat penting agar kita mengendalikan mereka, tidak dalam kondisi gelap. Mereka (tim rescuer) kita bekali dengan Starlink, kita bekali dengan repeater mobile," tuturnya.

Hari ini, lanjutnya, kondisinya bagus, bisa dikomunikasikan semua. "Sehingga, informasi hari ini kemungkinan kita akan bisa mengevakuasi ke Posko AJU (Balocci Pangkep) satu jenazah, itu juga dari kendali komunikasi kita," katanya.

Baca juga: Tim SAR gabungan kembali temukan satu korban kecelakaan pesawat ATR

Baca juga: Tim SAR dikerahkan ke Bulusaraung lokasi penemuan serpihan pesawat

Menurutnya, dari beberapa hari pencarian kondisi cuaca sangat ekstrem. Tim SAR gabungan ada relawan, personel TNI dan lainnya sudah berhari-hari berada di lokasi dan belum bisa pulang sebelum misi selesai, membawa jenazah korban melalui jalur terjal serta berbahaya

Kegiatan operasi kemanusiaan ataupun SAR gabungan kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut, kata dia, sudah dilaporkan kepada Kasad TNI maupun Panglima TNI perkembangan penanganannya agar dibantu. Sebab, dari analisa daerah operasi kondisi medan terjal, berkabut dan cuacanya ekstrem

Ia menambahkan tim SAR Gabungan khusus rescue yang diturunkan mencari para korban sudah terlatih dari perwakilan prajurit TNI AD, TNI AU dan TNI AL, personel kepolisian maupun Basarnas yang memiliki kemampuan serta keahlian mountaineering.

Sejauh ini baru dua jenazah ditemukan dalam peristiwa itu dari 10 orang korban. Satu laki-laki dan satu perempuan yang belum diketahui identitasnya serta serpihan pesawat dan barang pribadi korban yang terhambur di gunung setempat usai pesawat nahas itu menabrak Gunung Bulusaraung.

Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.