Aceh Barat-Jepang kerja sama mitigasi bencana

Aceh Barat-Jepang kerja sama mitigasi bencana

Dokumentasi keluarga korban bencana gempa dan tsunami memanjatkan doa saat berziarah di kuburan massal Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (26/12). Peringatan 11 tahun gempa dan tsunami diselenggarakan secara sederhana dengan doa bersama dan berziarah ke kuburan massal serta seminar tentang mitigasi bencana. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

... orang Jepang masih bisa tenang menghadapi bencana karena dasar watak penuh disiplin sejak dari kecil dan itu hasil budaya jangka panjang dan hasil pendidikan...
Meulaboh, Aceh (ANTARA News)- Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, membangun kerja sama dengan Jepang dalam upaya meningkatkan mitigasi alias penanggulangan bencana di daerah tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh Barat, H T Ahmad Dadek, di Meulaboh, Rabu, mengatakan, "Gempa bumi dan tsunami 2004 tidak cukup kuat menjadikan masyarakat siaga dan menjadikan bencana bagian dari karakter dan budaya."

Karena itu mereka meminta kepada Jepang untuk memberikan dukungan penuh dalam peningkatan mitigasi bencana di Aceh Barat. Tahap pertama akan dibuatkan proposal yang akan diajukan kepada JICA.

Mereka berdialog dengan dua peneliti Jepang yang datang ke Aceh Barat, yaitu Prof Suzuki Tamojo, sekretaris umum Enginer Without Border Jepang, dan Prof Masaru Arakida, selaku senior Asian Disaster Reduction Center.

Dadek menjelaskan, setelah agenda pertemuan kedua belah pihak tersebut akan dilanjutkan pula dengan pembuatan proposal oleh kedua orang peneliti asal Jepang ini untuk diajukan kepada JICA.

Sementara itu Arakida dalam pertemuan tersebut menyampaikan, sebagai seorang tenaga ahli kebencanaan, dia merasa perlu memberikan pengetahuan kepada masyarakat di kawasan itu.

Menurut dia, metode mitigasi bencana yang dilakukan di Jepang saat ini sudah tidak lagi perlu teori dan presentasi, tetapi paling baik diimplementasikan lewat permainan aplikatif.

"Metode Jepang juga bukan yang terbaik sebab setiap masyarakat memiliki cara dan metode sendiri untuk meningkatkan mitigasi bencana,"sebutnya.

Senada juga diutarakan Suzuki, menurut dia perlu keterlibatan masyarakat secara budaya dan sadar untuk meningkatkan mitigasi, dengan demikian masyarakat terbiasa dan lebih siap menghadapi bencana.

Ia menjelaskan, "Kami, orang Jepang masih bisa tenang menghadapi bencana karena dasar watak penuh disiplin sejak dari kecil dan itu hasil budaya jangka panjang dan hasil pendidikan."

Menyangkut koordinasi di Jepang, dulu masyarakat negara itu sangat bergantung kepada prosedur tetap, namun prosedur tetap itu hanya banyak diketahui pemegang komando sementara kalanga awam kurang paham.

Karena itu menurut Suzuki, yang lebih penting kondisi sekarang untuk memperkuat mitigasi bencana adalah latihan dan simulasi yang harus selalu dievaluasi dan kurikulum digunakan Jepang bisa diterapkan di Indonesia secara luas dengan cara magang.

"Anak-anak sekolah di Jepang banyak yang selamat karena ada Tendeko masing masing lari ke tempat tinggi, tidak boleh tinggal di rumah, tidak usah khawatir tentang orang tua dan ini perlu diaplikasi di sekolah Aceh," jelasnya.

Pewarta: Anwar
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016

PLTD Apung, saksi bisu hantaman dahsyat tsunami

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar