Jakarta (ANTARA) - Volume ekspor mobil merek China rakitan pabrik Indonesia pada 2025 mencatat kenaikan hingga 148 persen, yang didorong oleh pengiriman kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Menurut seorang pengamat, EV berpeluang menjadi pilar baru ekspor komoditas non-migas Indonesia di masa mendatang

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), terdapat tiga merek China yang melakukan ekspor kendaraan rakitan lokal sepanjang tahun lalu, yakni Wuling, Chery, dan DFSK, dengan total ekspor mencapai 3.200 unit.

Mayoritas ekspor tersebut berupa mobil utuh atau completely built-up (CBU), dengan negara tujuan utama ekspor di antaranya Sri Lanka, Bangladesh, Brunei, dan Vietnam. Wuling menjadi merek China dengan volume ekspor terbesar, yakni 2.411 unit, disusul Chery sebanyak 745 unit, dan DFSK sebanyak 44 unit.

Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan tren peningkatan ekspor tersebut menunjukkan bahwa tenaga kerja lokal telah mampu memenuhi standar global yang digunakan oleh pabrikan mobil China, khususnya di segmen EV.

Sekitar 52 persen, atau sekitar 1.670 unit, dari total ekspor mobil merek China buatan Indonesia pada tahun lalu merupakan EV, yang seluruhnya merupakan rakitan Wuling. Volume ekspor EV tersebut meningkat 71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Saya melihat Indonesia sedang naik kelas, tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar, khususnya untuk kendaraan listrik, tetapi juga telah diakui sebagai basis produksi. Jika tren ini dijaga dengan regulasi yang konsisten, angka ekspor tersebut berpotensi melonjak dalam beberapa tahun mendatang," ujar Yannes kepada Xinhua.

Menurutnya, terdapat sejumlah alasan pabrikan China memilih Indonesia sebagai basis produksi untuk tujuan ekspor. Dia menyebut Indonesia memiliki peluang sebagai basis produksi mobil setir kanan untuk negara-negara tetangga, seperti negara-negara Asia Tenggara, Bangladesh, Sri Lanka, hingga Australia.

Selain itu, Yannes menilai mobil produksi Indonesia berpeluang terhindar dari tarif impor yang lebih tinggi di negara tujuan dibandingkan dengan kendaraan yang diproduksi langsung di China. Hal ini antara lain didukung oleh keberadaan berbagai perjanjian perdagangan bebas tarif antara Indonesia dan sejumlah negara.

Faktor lainnya adalah ekosistem baterai kendaraan listrik yang saat ini terus dikembangkan secara lokal, yang diperkirakan akan membuat biaya produksi EV di Indonesia akan terus menurun ke depannya. Selesai


Pewarta: Xinhua
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.