Sydney (ANTARA) - Sejumlah ilmuwan di Australia telah memetakan "lingkungan" sel kanker paru-paru dan menemukan bahwa metabolisme sel memainkan peran kunci dalam menentukan bagaimana pasien merespons imunoterapi.

Para peneliti dari Institut Frazer di Universitas Queensland (UQ) meneliti interaksi sel pada tingkat seluler pada kanker paru-paru nonsel kecil, jenis kanker paru-paru yang paling umum, untuk lebih memahami mengapa beberapa pasien tidak merespons pengobatan imunoterapi, kata pernyataan UQ pada Rabu (4/2).

Menggunakan algoritma pembelajaran mesin dan pendekatan komputasional, studi yang dipublikasikan dalam Nature Communications ini menganalisis bagaimana sel berinteraksi dan memetabolisme glukosa, yang membantu pertumbuhan sel kanker, kata Arutha Kulasinghe, lektor kepala di Institut Frazer UQ.

"Kami berhasil menyelami sifat kompleks sel, pada dasarnya mengamati kehidupan sel dalam komposisi kompleks tumor, dan menemukan bahwa beberapa lingkungan metabolik tertentu berkaitan dengan respons dan resistansi terhadap imunoterapi," kata Kulasinghe.

Imunoterapi berbiaya mahal dan hanya bermanfaat bagi sebagian kecil pasien, katanya, seraya menambahkan bahwa "penting untuk memahami cara mengidentifikasi pasien-pasien ini, serta mereka yang mungkin memerlukan terapi kombinasi atau alternatif."

Penulis utama James Monkman dari Institut Frazer UQ mengatakan penyerapan glukosa yang lebih tinggi pada sel kanker berkaitan dengan hasil yang lebih buruk.

"Kami tahu sel kanker menyukai gula, dan kami menganalisis di mana glukosa diproses di dalam sel serta di mana hal itu tidak terjadi," kata Monkman. "Anda bisa memiliki area tumor yang memproses glukosa dengan cara yang sama sekali berbeda dengan area lain dari tumor tersebut."

Langkah selanjutnya adalah mengembangkan pengobatan tertarget, seperti dengan inhibitor metabolik, untuk membuat imunoterapi lebih efektif, serta pada akhirnya memungkinkan penyesuaian pengobatan presisi dengan tumor masing-masing pasien, dengan rencana untuk memperluas pendekatan tersebut ke jenis kanker lainnya, kata para peneliti.


Pewarta: Xinhua
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.