Ringkasan teror bom di Indonesia

Ringkasan teror bom di Indonesia

Polisi dari Polda Metro Jaya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) ledakan di Mal Alam Sutera, Tangerang, Banten, Rabu (28 Oktober 2015). (ANTARA/Lucky R.)

Jakarta (ANTARA News) - Jakarta dengan semua aktivitas belasan juta warganya tidak kebal dari bom, ledakan, dan aksi-aksi teror. Motif pelaku beraneka rupa, mulai dari sekedar menyatakan eksistensi diri, kontra pemerintahan, jaringan teror internasional, hingga bermotif politik ingin menggulingkan pemerintahan sah. 

Paling mutakhir adalah bom di depan Gedung Sarinah, persimpangan antara Jalan MH Thamrin dan Jalan Kebon Kacang-Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, sekira pukul 10.30 WIB, Kamis.

Berikut ringkasan peristiwa teror bom di Jakarta, dan sejumlah tempat di Indonesia: 

1957: Teror bom pertama yang meledak setelah Indonesia merdeka. Presiden Soekarno yang sedang berkunjung ke sekolah Perguruan Cikini, Jakarta Pusat, dan hendak dibunuh melalui ledakan bom. Bung Karno selamat pada serangan saat hari ulang tahun (HUT) Perguruan Cikini, yang juga menjadi tempat anak-anaknya bersekolah. 

1976: Pada era Soeharto, setelah sekian tahun tidak ada teror bom, tiba-tiba Masjid Nurul Iman di Padang, Sumatera Barat, diledakkan orang tidak dikenal. Pelakunya tak pernah tertangkap. Menurut aparat keamanan, pelakunya bernama Timzar Zubil, yang tidak bisa dikonformasi kebenarannya hingga kini.



1978: Masjid Istiqlal, Jakarta, diteror bom, dan belum diketahui pelaku dan motifnya hingga kini.  
4 Oktober 1984: Bank BCA di Pecenongan, Jakarta Pusat, diledakkan. Beberapa nama terkenal terseret kasus ini, seperti AM Fatwa, Letnan Jenderal (Purnawirawan) HR Dharsono, mantan Menteri Perindustrian HM Sanusi. Kebanyakan adalah anggota Petisi 50 yang kritis terhadap cara Soeharto memerintah Indonesia. Menurut pengakuan pelaku di lapangan, aksi ini merupakan pelampiasan kekecewaan mereka atas Peristiwa Tanjung Priok. 


1985: Satu bus malam, Pemudi Express, diledakkan di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Pelakunya adalah Abdul Kadir Alhasby. Teror bom ini diduga kuat ada kaitannya dengan kasus Tanjung Priok.



Di tahun yang sama, sejumlah stupa di Candi Borobudur, Jawa Tengah, berantakan dihajar bom. Tempat suci agama Budha itu dibom kelompok radikal keagamaan berlatar politik. Dua bersaudara Abdulkadir bin Ali Alhabsyi dan Husein bin Ali Alhabsyi  dituding sebagai pelaku peledakan Candi Borobudur.

1986: Kali ini pelaku bom adalah orang asing yang menamakan dirinya Brigade Anti Imperialisme dari Jepang. Sasarannya adalah Wisma Metropolitan dan Hotel Presiden (sekarang Hotel Nikko). Kedua bangunan tersebut milik pemerintah yang dibangun dengan rampasan perang dari Jepang.



Kelompok dari Jepang itu diduga akan meluncurkan roket dari kamar Hotel Presiden ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta dan Kedutaan Besar Kanada di Jakarta. Saat itu, ekonomi Indonesia masih sangat mengandalkan utang dari Kelompok Antarpemerintah bagi Indonesia (Intergovernmental Group on Indonesia/ IGGI), yang menempatkan Jepang pemberi utang utama. 

1991: Anak buah gerilyawan Fretilin, Kay Ralla Xanana Gusmao, meledakkan bom di Demak, Jawa Tengah. Jakarta sangat represif pada pergerakan di Dili, Timor Timur, itu yang puncaknya adalah peristiwa Santa Cruz, di Dili,

1991. Satu Hotel juga diledakkan di Surabaya. 



1998: Pada awal reformasi Januari 1998, bom meledak di rumah susun Senen, Jakarta.
Di tahun yang sama tempat parkir kendaraan di Atrium Plaza di Jakarta Pusat, diledakkan. Sejumlah mobil rusak berat.

1999: Pusat perbelanjaan Ramayana di Jalan Agus Salim (dikenal sebagai Jalan Sabang), Jakarta Pusat, diledakkan sehingga merusak bagian toko itu. Pelakunya sama dengan pelaku di Atrium Plaza, pusat perbelanjaan Senen, Jakarta Pusat.
, pada 1998.
Di tahun ini pula pusat perbelanjaan Plaza Hayam Wuruk di Jakarta Barat, diledakkan sejumlah pemuda yang mengaku anggota Angkatan Mujahidin Islam Nusantara. 



Malam Natal 2000: Sejumlah gereja yang dipenuhi jemaat yang merayakan Malam Natal di Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Mojokerto, Mataram, Pematang Siantar, Medan, Batam, dan Pekanbaru, diledakkan. 

Inilah awal keterlibatan Hambali dalam rangkaian teror di Indonesia. Pria asal Cianjur yang ditangkap di Ayutthaha, Thailand, 2003, oleh aparat intelijen Thailand. Ia menunjuk Imam Samudra untuk pelaksana aksi teror di Batam dan Idris alias Gembrot untuk Pekanbaru. 



1 Agustus 2000: Bom meledak di kediaman Duta Besar Filipina untuk Indonesia, di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, dan menewaskan dua stat kedutaan besar negara ASEAN itu.
 


September 2000: Bom dengan skala besar meledak di tempat parkir Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ). Korban tewas 10 orang, terluka 15 orang dan puluhan mobil rusak. Peristiwa ini sempat mengguncang bursa nasional.



Juli 2002: Bom meledak dan mengagetkan warga Cijantung, Jakarta Timur, karena terjadi di Graha Mall Cijantung, Jakarta, dekat komplek Kopassus TNI AD. Graha Mall Cijantung dimiliki yayasan yang bernaung di bawah Kopassus TNI AD. 



12 Oktober 2002: Bom meledak di Paddy’s Cafe dan Sari Club, dua restoran di Jalan Legian, Kuta, Denpasar, Bali. Tiga ledakan terjadi di dekat kantor konsulat Amerika di Renon, Denpasar. Ledakan di Legian menewaskan 187 orang dan 385 luka-luka. Teror ini terkenal dengan tragedi Bom Bali I. 



5 Agusutus 2003: Bom meledak di Hotel JW Marriot, Jakarta. Pelakunya, Asmar Latin Sani, alumnus Pesantren Ngruki, yang mengendarai Toyota Kijang berisi bahan peledak. Model bomnya mirip bom Bali yang menggunakan bahan campuran organik dan anorganik. Korban  tewas 14, dan luka-luka 156. 



10 September 2006: Bom meledak di Kedutaan Besar Australia, Jakarta. Jumlah korban sekitar 6 sampai 9 orang. Yang tewas satpam kedubes dan pemohon visa. 



1 Oktober 2005: Bom meledak di Kuta Bali. 22 orang tewas dan 196 orang luka-luka. Bom meledak di tiga tempat: Kafe Nyoman, Kafe Menega, dan Restoran Raja’s di Kuta Square, Denpasar.  Tragedi ini kerap disebut Bom Bali II. 



17 Juli 2009: Bom meledak di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Ledakan bom Marriot merupakan yang kedua kalinya, setelah 2003. Sembilan korban tewas dan puluhan luka-luka. 

April 2015: Sedikit-dikitnya empat orang cedera akibat ledakan di permukiman padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu petang itu. Ledakan terjadi di dalam sebuah rumah bedeng dari papan dan tripleks di sudut sebuah lapangan di belakang Gang Kayu Mati, Jalan Jatibunder, Tanah Abang, sekitar pukul 15.00 WIB.

Juli 2015: Bom meledak di Mall Alam Sutera, Tangerang, Banten. 

28 Oktober 2015: Bom kembali meledak di Mall Alam Sutera. Saksi mata menerangkan ada suara ledakan pada pukul 12.05 di dalam toilet kantin karyawan di lantai LG Mal Alam Sutera. Polisi menangkap seorang pelaku tunggal.

November 2015. Ledakan terjadi di Jalan Raden Inten, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Senin (16/11) dini hari WIB. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata kepada aparat, ledakan berlangsung di seberang Gedung Senam, pada pukul 03.30 WIB. Diduga pelaku memakai granat tangan. 

Oleh A037
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar