counter

Ekonom: pembangunan Indonesia tidak lagi Jawa-sentris

Ekonom: pembangunan Indonesia tidak lagi Jawa-sentris

ilustrasi Wilayah Perbatasan Membangun Buruh bangunan sedang mengerjakan bangunan berlantai III di Kompleks pertokoan Sei Nyamuk Kecamatan Sebatik Timur Kabupaten Nunukan, Sabtu (27/4). tetangga. (FOTO ANTARA/M Rusman)

Sebanyak Rp770 trilun dari volume belanja negara sebesar Rp2.095 triliun ditujukan untuk daerah dan dana desa. Ini menunjukkan Indonesia bukan lagi Jawa-sentris tetapi Indonesia-sentris,"
Jakarta (ANTARA News) - Pembangunan Indonesia tidak lagi terpusat di Pulau Jawa atau Jawa-sentris yang ditunjukkan dengan ruang fiskal lebih ekspansif dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016, kata Kepala Ekonom Bank Nasional Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto.

"Sebanyak Rp770 trilun dari volume belanja negara sebesar Rp2.095 triliun ditujukan untuk daerah dan dana desa. Ini menunjukkan Indonesia bukan lagi Jawa-sentris tetapi Indonesia-sentris," kata Ryan dalam suatu diskusi di Jakarta, Jumat  malam.

Selain itu, katanya, kebijakan tersebut juga ditandai dengan pembangunan berbagai macam infrastruktur, seperti waduk, jalan raya, pelabuhan, dan jalur kereta api di daerah-daerah.

Berbagai pembangunan tersebut tidak lepas dari pengawasan ketat Presiden Joko Widodo yang rutin datang ke lokasi-lokasi proyek itu.

"Itu menunjukkan keseriusan pemerintah," kata Ryan.

Indonesia di bawah Pemerintahan Presiden Jokowi memang menitikberatkan pengembangan desa dan daerah-daerah terpencil atau lazim disebut membangun dari pinggiran.

"Untuk melihat Indonesia sesungguhnya, maka lihatlah desa, dari pinggiran. Sebab kondisi riil masyarakat Indonesia adanya di desa, Sehingga apapun program yang kita kerjakan jangan sampai mengabaikan kepentingan masyarakat desa," ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar beberapa waktu lalu.

Terkait dengan APBN 2016, Ryan mengingatkan bahwa tidak ada gunanya fiskal yang ekspansif tanpa disertai suku bunga acuan (BI rate) yang longgar.

Oleh karena itu Ryan mengapresiasi penurunan BI rate 25 basis poin menjadi 7,25 persen dengan "lending facility" 7,75 persen dan "deposit facility" 5,25 persen, berdasarkan hasil rapat Dewan Gubernur BI pada 13-14 Januari 2016.

Ia optimistis bahwa kebijakan yang disambut positif oleh pasar itu, akan dilakukan dua sampai tiga kali lagi pada 2016, juga sebesar 25 poin.

Pewarta: Michael Siahaan
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sinergi perdagangan daring dan logistik untuk genjot pertumbuhan ekonomi nasional

Komentar