"Jadi kita akan mengirimkan kapal rumah sakit, yang jelas. Sementara yang masih didaftarkan satu, tapi mungkin bisa jadi lebih dari satu ya,"
Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI mengatakan pihaknya telah menyiapkan kapal rumah sakit untuk dikirim dan pasukan ke Palestina sebagai sebagai bagian dari komitmen dalam Board of Peace (BoP) untuk membantu meredam konflik.
"Jadi kita akan mengirimkan kapal rumah sakit, yang jelas. Sementara yang masih didaftarkan satu, tapi mungkin bisa jadi lebih dari satu ya," kata Ali saat ditemui di Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Pom AL), Jakarta Utara, Kamis.
Ali melanjutkan, pihaknya akan memprioritaskan pengiriman satu kapal rumah sakit ke Palestina. Sedangkan kapal rumah sakit yang ke dua akan disiagakan untuk menjadi cadangan.
Ali mengatakan, pengiriman kapal rumah sakit itu juga bersamaan dengan pengiriman pasukan di bidang zeni konstruksi dan bidang kesehatan.
"Jumlahnya kita masih menunggu kesepakatan dan arahan dari Mabes TNI," kata Ali.
Sebelumnya Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah Indonesia tengah mematangkan rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian sebagai bagian dari komitmen dalam BoP untuk membantu meredam konflik di Palestina.
Ia menyebut saat ini proses pengiriman pasukan masih dalam pembahasan. Namun, Prasetyo memperkirakan jumlah personel yang dikirim kurang lebih 8.000 prajurit TNI.
"Sedang dibicarakan, tapi ada kemungkinan kita akan kurang lebih di angka 8.000," ujar Prasetyo di Jakarta, Selasa (10/2).
Sebelumnya, sempat muncul informasi bahwa wilayah Rafah menjadi salah satu opsi penempatan. Namun, Prasetyo menyebut bahwa keputusan tersebut belum final.
"Kita baru mempersiapkan diri, sewaktu-waktu sudah ada kesepakatan, kita harus mengirim pasukan perdamaian sebagai sebuah komitmen. Itu akan kita lakukan," terangnya.
Mensesneg menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP merupakan bagian dari komitmen bangsa terhadap perjuangan Palestina, khususnya dalam mendukung pengakuan kemerdekaan Palestina dan membantu meringankan penderitaan warga Gaza.
Lebih lanjut, Prasetyo menyampaikan bergabungnya Indonesia dalam BoP bersama tujuh negara muslim lainnya, diharapkan dapat menurunkan eskalasi konflik dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.
"Setidaknya kita berharap akan mengurangi eskalasi konflik yang ada di Gaza, sehingga saudara-saudara kita berkurang penderitaannya. Dengan sekarang proses tersebut, bantuan-bantuan makanan bisa masuk ke Gaza. Yang ini kita berharap meringankan beban saudara-saudara kita," kata Prasetyo.
Terkait dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdana BoP yang berlangsung pada 19 Februari 2026, Prasetyo mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mendapat undangan. Namun, kehadirannya belum bisa dikonfirmasi.
Pewarta: Walda Marison
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.