Jakarta (ANTARA) - Pakar Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI) Mahawan Karuniasa menyebut perlunya pembuatan peta jalan pengurangan emisi untuk sektor logistik mengacu kepada dokumen iklim yang sudah dimiliki oleh Indonesia.

Dalam diskusi Green Logistic Talk diikuti daring dari Jakarta, Kamis, Akademisi UI Mahawan Karuniasa menyebut sektor transportasi dan logistik tidak hanya perlu mempertimbangkan isu mitigasi tetapi juga adaptasi, mengingat dampak perubahan iklim seperti peningkatan bencana hidrometeorologi akan menimbulkan disrupsi terhadap sektor tersebut.

Untuk itu, ketika ingin menyusun peta jalan atau roadmap maka perlu untuk mempertimbangkan dokumen iklim yang sudah dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia. Termasuk dokumen Second Nationally Determined Contribution (NDC) yang mencantumkan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) baru Indonesia.

"Jadi ini nanti akan berimplikasi pada bisnis bapak/ibu bagaimana kalau roadmap green logistic ini akan disusun maka akan berpedoman pada tiga dokumen ini. Jangka panjang akan mendukung emisi yang lebih rendah atau zero emission tahun 2060 atau lebih cepat," tuturnya.

Baca juga: RI telah serahkan dokumen iklim Second NDC dengan target emisi baru

Second NDC berlaku pada periode 2031-2035, setelah sebelumnya Enhanced NDC untuk tahun 2026-2030.

Pemerintah juga sudah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 110 Tahun 2025 tentang tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.

"Saya kira apa yang akan disusun nanti, misalkan ini akan disusun suatu roadmap, maka arsitekturnya saya kira tinggal mengikuti saja. Mulai dari inventarisasi, dan seterusnya sampai dengan pelaporan, verifikasi, dan seterusnya tinggal mengikuti hal itu," tuturnya.

Baca juga: Menteri LH: RI punya target kurangi emisi lebih ambisius di Second NDC

Hal itu mengingat sektor logistik terkait erat dengan jaringan suplai atau supply chain, yang memerlukan efisiensi logistik dan pengurangan bahan bakar fosil sebagai bagian dari upaya pengurangan emisi.

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.