Para pembantu presiden harus menerjemahkan dan menjalankan dengan benar cita-cita Bapak Presiden, yaitu Astacita, konsep Prabowonomics, dan Sumitronomics. Kapan lagi kita bisa mewujudkan pemikiran yang nasionalistik dan sesuai konstitusi seperti yang
Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR RI Rachmat Gobel menekankan bahwa industri otomotif nasional telah memiliki kemampuan memproduksi mobil pick-up secara domestik, mengingat adanya rencana impor segmen kendaraan tersebut untuk Koperasi Desa(Kopdes)/Kelurahan Merah Putih.
Menurut Gobel dalam pernyataan yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu kebijakan impor kendaraan dalam jumlah besar berpotensi tidak sejalan dengan upaya penguatan industri nasional dan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.
"Para pembantu presiden harus menerjemahkan dan menjalankan dengan benar cita-cita Bapak Presiden, yaitu Astacita, konsep Prabowonomics, dan Sumitronomics. Kapan lagi kita bisa mewujudkan pemikiran yang nasionalistik dan sesuai konstitusi seperti yang dimiliki Presiden Prabowo Subianto," ujar Gobel.
Sebelumnya diberitakan rencana pengadaan sekitar 105 ribu kendaraan niaga dari India, untuk mendukung transportasi logistik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dengan nilai mencapai Rp24,66 triliun.
Baca juga: Industri kaca minta rencana impor mobil pick-up dikaji lagi
Gobel menilai langkah impor tersebut berpotensi bertentangan dengan agenda prioritas pemerintah, khususnya terkait penciptaan lapangan kerja dan penguatan industrialisasi nasional.
"Rencana impor mobil secara besar-besaran ini dengan menggunakan dana BUMN sama sekali tak mendukung Astacita, bahkan melanggar Astacita, karena menghamburkan dana negara untuk membiayai tenaga kerja asing dan industri negara lain," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan peran BUMN seharusnya menjadi instrumen untuk menggerakkan industri domestik serta menyerap tenaga kerja, terutama lulusan pendidikan vokasi yang banyak terserap di sektor otomotif.
Gobel juga menekankan bahwa industri otomotif Indonesia telah berkembang dengan jaringan produksi dan layanan yang luas, serta tingkat kandungan lokal yang terus meningkat.
Baca juga: GAIKINDO: Industri mampu penuhi kebutuhan kendaraan komersial
Selain itu, ia menilai pengadaan kendaraan untuk kopdes seharusnya dapat menjadi momentum bagi industri nasional untuk menunjukkan kapasitasnya.
"Pengadaan mobil untuk KDMP seharusnya menjadi momentum bagi Pindad untuk membuktikan kemampuannya," ucapnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mengingatkan pentingnya penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan kendaraan untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, seiring adanya kontrak pengadaan kendaraan niaga senilai Rp24,66 triliun.
Ia menilai proyek pengadaan dalam skala besar tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat industri otomotif nasional, bukan sekadar memenuhi kebutuhan distribusi logistik desa.
Baca juga: Komisi VII DPR: Gunakan produk RI dalam pengadaan kendaraan kopdes
"Ini pengadaan dalam skala sangat besar. Dampaknya bukan hanya pada logistik desa, tetapi juga terhadap struktur industri otomotif nasional," ujar Evita dalam pernyataan di Jakarta, Jumat (20/2).
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, Indonesia telah mampu memproduksi kendaraan pick-up secara mandiri yang menjadi bukti kemandirian industri otomotif nasional, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi perekonomian.
Respons ini disampaikan dia berkaitan dengan rencana impor 105.000 mobil pick-up dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih.
Menperin dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (19/2) menjelaskan, apabila pengadaan kendaraan pick-up 4x2 sebanyak 70.000 unit dipenuhi dari produksi dalam negeri, maka akan memberikan dampak ekonomi ke belakang (backward linkage) sekitar Rp27 triliun.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.