Depok (ANTARA) - Tim Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia (UI) menciptakan RunSight perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu penyandang disabilitas visual berlari secara mandiri dan aman.

Tim Labmino UI terdiri atas Muhammad Fazil Tirtana, Kaindra Rizq Sachio, Anthony Edbert Feriyanto, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim ini mengembangkan RunSight, perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI).

“Kami ingin memastikan perangkat ini tidak hanya canggih, tetapi juga ringan dan hemat daya. Tujuan utamanya adalah membuka akses olahraga yang lebih inklusif bagi teman-teman disabilitas visual,” ujar Anthony dalam keterangannya, Senin.

Ide RunSight muncul dari pengalaman seorang teman yang gemar berolahraga namun mengalami katarak dan kesulitan melihat garis di trek lari.

Tim kemudian melakukan validasi dan menemukan bahwa permasalahan serupa juga dialami oleh banyak penyandang gangguan penglihatan lainnya. Dari situlah pengembangan solusi dimulai.RunSight memanfaatkan sensor dan sistem pemrosesan AI untuk membaca kondisi lingkungan sekitar pengguna secara realtime.

Perangkat ini memberikan panduan yang membantu pengguna mengenali jalur serta menghindari rintangan saat berlari. Dalam pengembangannya, tim tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan, efisiensi energi, dan potensi biaya produksi yang lebih terjangkau.

Tim Labmino terpilih sebagai Global Ambassador dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT), kompetisi inovasi internasional yang mendorong generasi muda menghadirkan solusi berbasis teknologi untuk menjawab tantangan sosial.

Perjalanan Tim Labmino dalam Samsung Solve for Tomorrow (SFT) dimulai pada Mei 2025 melalui tahap penyisihan nasional dengan pengumpulan concept paper.

Tim kemudian melaju ke semifinal dan final nasional, sebelum akhirnya lolos ke tahap South East Asia and Oceania Selection dan Global​​​​​​​ Selection pada akhir 2025.

Mereka tampil dalam kegiatan seremonial bagi para Global Ambassador diselenggarakan di Milan, Italia, pada 8–10 Februari 2026.

Menurut Anthony, proses panjang tersebut menjadi ruang pembelajaran yang membentuk cara pandang tim terhadap inovasi.

“Kami belajar bagaimana menghubungkan empati dengan teknologi. Tantangannya bukan hanya membuat alat yang berfungsi, tetapi memastikan solusi itu benar-benar relevan dan bisa diterapkan,” katanya.

Inovasi Tim Labmino ini membuat Indonesia untuk pertama kalinya meraih predikat Global Ambassador dan menjadi satu dari dua negara di kawasan South East Asia and Oceania (SEAO) yang berhasil mencapainya.

Atas prestasi tersebut, Rektor UI, Prof. Heri Hermansyah menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswa.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa UI tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang berangkat dari empati dan kepedulian sosial. Inilah esensi
pendidikan tinggi menghasilkan solusi nyata yang memberi dampak luas bagi masyarakat," katanya.

Ke depannya, UI akan mendorong ekosistem inovasi yang kolaboratif dan inklusif agar semakin banyak karya mahasiswa yang dapat berkontribusi di tingkat internasional.

“Kami bangga atas keberanian dan konsistensi mereka membawa gagasan dari kampus hingga ke forum global. Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk terus berinovasi dan menembus batas,” kata Prof. Heri.

Baca juga: UIMagz torehkan prestasi bidang komunikasi publik

Baca juga: Riset UI sebut MBG berdampak positif pada kelompok ekonomi rendah

Baca juga: Guru Besar UI kembangkan metode 'sintesa hijau'

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.