Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai pada Januari 2026 mencapai Rp22,6 triliun, turun 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin, menjelaskan penurunan terutama dipengaruhi oleh kinerja penerimaan cukai dan bea keluar pada awal tahun.
Secara rinci, penerimaan cukai tercatat sebesar Rp17,5 triliun atau terkontraksi 12,4 persen secara tahunan. Penurunan ini berkaitan dengan melemahnya produksi pita cukai pada akhir 2025.
"Kalau kita lihat pembelian pita cukai, pada bulan Desember 2025 dibandingkan Desember 2024 memang terjadi penurunan. Tapi di bulan Januari (2026) terjadi kenaikan dibandingkan Januari 2025," kata Suahasil.
Baca juga: Kemenkeu: “Debt switch” jaga stabilitas imbal hasil SBN
Kemudian, penerimaan bea keluar tercatat Rp1,4 triliun atau turun 41,6 persen secara tahunan. Penurunan tajam ini dipengaruhi oleh melemahnya harga komoditas, terutama minyak kelapa sawit (CPO) yang berdampak langsung pada basis pengenaan bea keluar.
Sementara, penerimaan bea masuk tercatat mencapai Rp3,7 triliun, turun 4,4 persen dibandingkan Januari tahun lalu.
Penurunan ini antara lain dipicu oleh meningkatnya impor dengan tarif most favoured nation (MFN) 0 persen, pemanfaatan fasilitas perjanjian perdagangan bebas (FTA), serta adanya restitusi.
Dikatakannya, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai pada Januari 2026 ini mencapai 6,7 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.