counter

Anggota DPR: pulau kosong Kepri rawan menjadi transit peredaran narkoba

Anggota DPR: pulau kosong Kepri rawan menjadi transit peredaran narkoba

Henry Yosodiningrat (FOTO ANTARA)

Batam (ANTARA News) - Anggota Komisi II DPR RI Henry Yosodiningrat menilai pulau-pulau kosong di Provinsi Kepulauan Riau rawan dijadikan tempat untuk memproduksi narkoba, karena lokasinya yang strategis dan jauh dari pantauan aparat keamanan.

"Saya minta atensi dari pemerintah daerah, aparat kepolisian untuk mengawasi pulau tidak berpenghuni," kata Henry Yosodiningrat di Batam, Rabu.

Menurutnya, pulau-pulau tidak berpenghuni di Kepri juga rawan sebagai tempat transit barang haram itu dari Malaysia.

"Di Kepri ini ada 2.000 pulau tidak berpenghuni, pelabuhan-pelabuhan konvensional ada di sana. Saya minta perhatian, karena ada informasi narkotika masuk dari Malaysia, transit di sana," kata aktivis gerakan anti narkoba itu.

Ia mengajak pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk memerangi narkoba sebagai kejahatan terbesar.

"Narkotika adalah kejahatan yang menghancurkan bangsa kita. Tiap hari 50 orang mati karena narkotika," kata dia.

Sementar itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat hingga akhir 2015 pengguna narkotika di Provinsi Kepulauan Riau sebanyak 41.767 jiwa atau mencapai 2,94 persen dari 1,5 juta penduduk setempat.

Kepala BNN Kepri Kombes Pol Benny Setiawan mengatakan, sekitar 70 persen atau 29.236 orang di antaranya merupakan pekerja, sisanya dari mahasiswa, pelajar, PNS, Polri serta kalangan masyarakat lain.

"Dengan data tersebut, membuat Kepri menempati posisi empat terbanyak pemakai di Indonesia setelah Jakarta, Kalimantan Timur, dan Sumatera Utara," kata dia.

Untuk di Kepri, kata dia, saat ini setelah kerap melakukan sosialisasi pada seluruh masyarakat sehingga banyak orang tua yang mengantarkan anaknya untuk direhabilitasi.

"Kami pun kerap menemukan para siswa yang positif menggunakan narkoba saat melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah. Apabila banyak orang dan anak muda minta direhabilitasi, itu artinya tugas BNN tidak berhasil. Karena banyak orang yang memakai," kata Benny.

Pewarta: Jannatun Naim
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar