Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan prinsip gizi seimbang dalam memilih menu berbuka puasa selama bulan Ramadhan.
Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Yuni Zahraini mengingatkan bahwa ketersediaan beragam makanan saat Ramadhan perlu disikapi secara bijak agar tidak memicu konsumsi berlebihan.
“Anjuran berbuka puasa dengan makanan manis tetap perlu dibatasi dalam jumlah yang wajar dan tidak berlebihan,” kata dia setelah acara dialog bertajuk "Penguatan Pola Konsumsi Pangan Sehat dan Berkelanjutan Lewat Transformasi Digital Inklusif" di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, konsumsi minuman manis seperti sirup, teh manis, atau minuman kemasan secara berlebihan saat berbuka dapat meningkatkan asupan gula harian secara signifikan.
Baca juga: Aneka takjil di Jalan Sabang, kue legendaris hingga seduhan rempah
Di sisi lain masyarakat juga perlu memastikan asupan karbohidrat, protein, dan lemak terpenuhi secara proporsional serta dilengkapi vitamin dan mineral dari sayur dan buah agar kebutuhan gizi harian tetap tercapai meski waktu makan terbatas.
Dia menyebut jika kebiasaan konsumsi gula tambahan berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi pengaturan kalori dan aktivitas fisik, kelebihan energi akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak sehingga memicu kenaikan berat badan.
Selain itu, makanan tinggi lemak seperti gorengan, santan kental, dan makanan cepat saji yang sering menjadi pilihan saat berbuka juga dapat meningkatkan asupan kalori dan lemak jenuh.
Dalam jangka panjang, pola konsumsi tersebut berisiko meningkatkan kadar kolesterol, memperbesar lingkar perut, serta memicu penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.
Yuni menekankan bahwa perubahan perilaku makan seperti ini membutuhkan edukasi berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya mengetahui prinsip gizi seimbang, tetapi juga mempraktikkannya setiap hari, termasuk dengan mengatur porsi, membatasi gula, garam, dan lemak, serta tetap aktif bergerak.
Sebagaimana rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) batas konsumsi gula yang dianggap aman maksimal 10 persen dari total kebutuhan energi harian.
Untuk orang dewasa dengan kebutuhan 2.000 kkal/hari, setara sekitar 50 gram gula atau lebih kurang empat sendok makan per hari. Dalam hal ini yang dimaksud adalah gula tambahan seperti gula pasir, gula dalam sirup, minuman manis, kue, dan makanan olahan, bukan gula alami yang terdapat dalam buah utuh atau susu
Ahli gizi bahkan menyarankan akan lebih baik lagi tidak kurang 5 persen dari total energi harian atau setara sekitar 25 gram gula (empat sendok teh) per hari untuk manfaat kesehatan tambahan.
Dengan begitu Kementerian Kesehatan berharap peristiwa Ramadhan dapat menjadi titik awal perbaikan pola konsumsi keluarga menuju kebiasaan makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Baca juga: Makanan tinggi gula tak disarankan dikonsumsi saat santap sahur
Baca juga: 15 rekomendasi menu takjil buka puasa yang manis dan menyegarkan
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.