Transformasi yang digagas Wahid Hasyim menunjukkan bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar tradisi

Jakarta (ANTARA) - Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana khas di pesantren. Tradisi ngaji posoan dengan sistem bandongan tetap lestari di tengah laju modernisasi pesantren.

Bandongan menjadi warisan pendidikan yang telah berlangsung berabad-abad, memperlihatkan kekuatan tradisi pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara sejak abad ke-15.

Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Ia mewariskan sistem pendidikan, ideologi, filosofi dan tradisi yang mengakar di dalam kehidupan masyarakat. Dalam sejarahnya, pesantren tidak pernah dijajah oleh sistem kolonial. Bahkan, menjadi perintis dan basis perlawanan masyarakat terhadap penjajahan. Kontribusinya monumental, menyatu dengan denyut nadi masyarakat dan nasionalisme.

Pesantren sesuai dasar kehidupannya menjadi lembaga ta’lim wa ta’allum li tafaqquh fi al-din (belajar mengajar untuk mendalami ilmu agama) dan tarbiyah; mendidik kepribadian muslim yang mulia. Semua dilakukan sesuai tradisi pengajaran dan pendidikan santri secara turun-temurun berdasar sanad guru dan pendahulunya.

Transformasi berbasis tradisi

Namun, seiring perkembangan zaman, muncul kebutuhan untuk memperluas cakrawala santri agar tidak hanya menjadi ulama atau pendakwah, tetapi juga mampu berperan dalam masyarakat luas. Kesadaran ini mendorong KH Abdul Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari pendiri pesantren salafiyah syafi’iyyah Tebuireng, Jombang, melakukan terobosan besar dalam sistem pendidikan pesantren.

Setelah menimba ilmu di Makkah dan menyerap dinamika sosial politik dunia Islam, pada 1934 Wahid Hasyim mengusulkan perubahan sistem pembelajaran di Tebuireng. Ia menggagas madrasah nidzamiyah dengan kurikulum klasikal yang memadukan 70 persen pelajaran umum, termasuk bahasa Inggris, politik, ekonomi, biologi, sejarah, dan kebudayaan.

Metode bandongan diganti dengan tutorial sistematis yang lebih konstruktif dan menyenangkan. Orientasinya jelas: mencetak santri yang berwawasan luas, mandiri, optimis, dan berani mengeksplorasi ilmu pengetahuan tanpa takut salah.

Santri tetap mempertahankan identitas pesantren dengan sarung dan kopiah, tetapi lebih disiplin dan kaya literasi melalui kitab kuning, buku bacaan, majalah, dan surat kabar. Inovasi ini sempat menimbulkan dikotomi antara sistem tradisional dan modern di lingkungan pesantren.

Namun, KH Hasyim Asy’ari akhirnya melebur madrasah nidzamiyah ke dalam sistem salafiyah Tebuireng, sehingga terjadi integrasi antara tradisi lama (bandongan, sorogan, wetonan, mudzakarah) dengan materi pelajaran umum. Tebuireng pun menjadi model bagi pesantren lain dalam mengembangkan sistem pendidikan.

Transformasi yang digagas Wahid Hasyim menunjukkan bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar tradisi. Restu Hasyim Asy’ari atas gagasan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara pelestarian tradisi dan inovasi pendidikan. Pesantren tidak hanya menjadi pusat tafaqquh fi al-din (mendalami ilmu agama) tetapi juga wahana pembentukan kader bangsa yang berilmu, berkepribadian, dan siap menghadapi tantangan sosial.

Pelajaran dari transformasi pesantren

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.