Di matanya, membangun fasilitas olahraga berstandar dunia bukan sekadar soal kemegahan fisik, melainkan investasi harga diri bangsa yang akan dikenang lintas generasi

Palembang (ANTARA) - Dalam lembaran sejarah pembangunan Sumatera Selatan, nama Alex Noerdin akan selalu tertulis dengan tinta emas sebagai sosok yang berani "menantang ketidakmungkinan".

Mantan Gubernur Sumatera Selatan dua periode (2008–2018) ini bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan seorang arsitek peradaban yang berhasil mengubah rawa-rawa sunyi di pinggiran Kota Palembang menjadi episentrum olahraga dunia bernama Jakabaring Sport City (JSC).

Bagi Alex Noerdin, olahraga adalah instrumen diplomasi paling tajam untuk mengangkat marwah daerah. Di matanya, membangun fasilitas olahraga berstandar dunia bukan sekadar soal kemegahan fisik, melainkan investasi harga diri bangsa yang akan dikenang lintas generasi.

Titik balik paling krusial dalam karier kepemimpinan Alex Noerdin bermula pada tahun 2009, saat ia menyatakan kesiapan Sumatera Selatan menjadi tuan rumah tunggal SEA Games 2011 di luar Jakarta.

Saat itu, banyak pihak di tingkat nasional memandang remeh meski Sumsel menjadi provinsi pertama di luar Jawa yang menyelenggarakan PON, tepatnya PON ke-16 tahun 2004.

Keraguan muncul, mampukah sebuah provinsi di luar Jawa ,perhelatan akbar negara-negara Asia Tenggara dalam waktu persiapan yang sangat singkat.

Namun, Alex justru melihat celah strategis di tengah keraguan tersebut. Di bawah komandonya, kawasan Jakabaring yang semula merupakan hamparan rawa gambut terisolasi, yang sering dianggap sebagai kawasan "tak bertuan" bermetamorfosis yang mencengangkan hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.

Ia menyulap kawasan seluas 325 hektare tersebut menjadi kompleks olahraga terpadu terbaik di Asia Tenggara. Di Jakabaring, Alex tidak hanya membangun gedung, ia membangun venue berstandar internasional.

Pada perhelatan SEA Games 2011, kawasan Jakabaring Sport City (JSC) dibangun besar-besaran. Alex Noerdin berhasil membangun dan merevitalisasi sekitar 21 venue dalam waktu yang sangat singkat, kurang dari dua tahun, untuk memenuhi standar internasional.

Venue itu di antaranya, Aquatic Center yang menjadi salah satu terbaik di Asia Tenggara saat itu. Memiliki kolam tanding, kolam loncat indah, dan kolam pemanasan dengan sistem penyaringan air yang sangat modern. Venue ini telah mendapatkan sertifikasi dari FINA.

Standar IAAF

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.