Jakarta (ANTARA) - Konsultan senior onkologi medis dari Parkway Cancer Centre (PCC) Singapura Dr. Tanujaa Rajasekaran mengatakan pengobatan kanker paru dengan pendekatan imunoterapi menjadi pilihan untuk meningkatkan hasil kelangsungan hidup secara signifikan terutama mereka yang berada di usia produktif.
"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," kata Dr. Tanujaa dalam diskusi bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif” di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Mengenal kanker paru, mulai pencegahan hingga terapi generasi baru
Baca juga: Penyintas kanker paru berharap pemerintah beri akses obat inovatif
Kanker paru kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Saat ini, semakin banyak dokter mendiagnosis penyakit tersebut pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan merasa dirinya sehat serta aktif.
Tanujaa mengatakan pengobatan dengan imunoterapi bisa diterapkan pada pasien kanker paru dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh membangunkan sel darah putih untuk mengenali dan menyerang sel kanker.
Dalam pengalamannya, terapi ini bisa diberikan kepada pasien kanker paru berusia 30-50 tahun baik pria maupun wanita dengan perokok aktif maupun yang tidak merokok sama sekali.
Imunoterapi merupakan terapi yang dapat meningkatkan ketahanan hidup pasien dengan pengobatan sekitar satu tahun untuk stadium kanker tahap awal 1-3, sementara bagi pasien dengan kanker stadium 4 yang sudah bermetastasis atau menyebar biasanya imunoterapi diberikan dalam jangka waktu yang lama bahkan seumur hidup.
“Jika kita berbicara tentang kanker tahap 4 atau metastatik, biasanya imunoterapi adalah dalam jangka panjang, selama kanker ini merespon. Jika kanker ini merespon, kita akan meneruskannya dalam jangka panjang. Kalau sudah berhenti memberikan respon, biasanya diganti dengan obat-obat yang lain,” kata Tanujaa.
Pasien dengan kanker paru yang melakukan pendekatan imunoterapi biasanya akan menunjukkan tanda perbaikan kanker sekitar 6-8 minggu, berat badan naik, dan batuk yang mereda yang merupakan salah satu gejala umum kanker paru.
Meskipun mengambil pengobatan imunoterapi, pasien masih bisa melakukan aktivitasnya dan tetap melakukan tanggung jawab di keluarganya.
Baca juga: Dokter: Usia pasien kanker paru di Indonesia 10 tahun lebih muda
Baca juga: Teknologi AI dukung skrining dan diagnosis kanker paru
Baca juga: Ilmuwan: dinamika interaksi sel kanker paru prediksi respon pengobatan
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.