Integrasi seluruh metode menunjukkan Sesar Lembang memiliki variasi karakter dari barat hingga timur dan masih menunjukkan indikasi aktivitas berdasarkan data geofisika yang diperoleh
Bandung (ANTARA) - Sesar Lembang yang membentang sekitar 29 kilometer di utara Kota Bandung, bukanlah jalur patahan tunggal dengan risiko homogen.
Penyelidikan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terbaru mengungkap bahwa sesar ini terbagi menjadi tiga segmen dengan karakteristik geologi, aktivitas, dan potensi gempa yang berbeda, sehingga menuntut strategi mitigasi spesifik dan terukur.
Sukahar Eka Adi Saputra, Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, menjelaskan bahwa setiap segmentasi tersebut memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di Bandung.
“Secara keseluruhan, Sesar Lembang merupakan sesar aktif dengan segmentasi yang jelas dan memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di wilayah Bandung," ujarnya, Kamis (26/2).
Dia juga menyebut bahwa arah tegasan dominan membentang dari timur laut hingga barat daya serta potensi gempa maksimum diperkirakan mencapai magnitudo 6,5 hingga 7 apabila seluruh segmen bergerak bersamaan.
Berdasarkan paleoseismologi (cabang ilmu geologi yang mempelajari gempa bumi purba), laju geser sesar tersebut berkisar 1,95 hingga 3,45 milimeter per tahun, dengan periode ulang gempa 170 hingga 670 tahun.
“Terdapat indikasi gempa besar pernah terjadi pada abad ke-15,” kata Sukahar.
Data ini menegaskan perlunya mitigasi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing segmen, bukan pendekatan tunggal.
Baca juga: Badan Geologi: Implementasi peta rawan gempa, mitigasi Sesar Lembang
Segmen barat dan offset signifikan
Segmen barat, membentang dari Sungai Cimeta hingga Ngamprah dan Cibaligo, memperlihatkan pola kekar pada lava, kontak lava-breksi, serta manifestasi mata air panas.
Hidayat, Penyelidik Bumi Ahli Muda Badan Geologi, mengatakan bahwa penampang barat terlihat konsisten dengan distribusi gempa mikro yang menunjukkan variasi karakter struktur yang masih aktif.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.