Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza memandang perjanjian dagang resiprokal antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat menjadi lompatan besar bagi industrialisasi nasional.
Menurut dia, perjanjian tersebut menjadi lompatan besar karena membuka peluang bagi percepatan hilirisasi mineral nasional yang selama ini menghadapi berbagai kendala, baik dari sisi investasi, teknologi, maupun akses pasar.
“Selama ini hilirisasi mineral kita masih menghadapi banyak tantangan. Dengan adanya perjanjian dagang Indonesia – Amerika Serikat, hilirisasi pasir silika sebagai bahan utama produksi chip atau semikonduktor berpeluang direalisasikan di dalam negeri. Ini lompatan besar bagi industrialisasi Indonesia,” kata dia dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Lebih lanjut dia menjelaskan pasir silika merupakan salah satu bahan baku penting dalam industri semikonduktor global.
Akibat kerja sama itu, dia mengatakan Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemasok bagi perusahaan-perusahaan semikonduktor berbasis AS sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Baca juga: Gedung Putih: Prabowo-Trump sepakati babak baru dagang RI-AS
Oleh sebab itu, dia mengatakan perjanjian dagang RI-AS justru menjadi langkah strategis yang memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global.
Sementara itu, dia menegaskan perjanjian tersebut tidak membunuh industri nasional, terutama industri kecil dan menengah (IKM).
Ia mengatakan pemerintah melalui perjanjian itu telah memastikan agar produk industri nasional tidak ditempatkan dalam persaingan langsung dengan produk AS di pasar domestik.
Selain itu, dia mengatakan sebanyak 1.819 produk Indonesia mendapatkan fasilitas tarif nol persen ke pasar AS. Sebelum perjanjian ini, produk-produk tersebut dikenakan tarif antara 8 - 12 persen.
“Kelompok industri tekstil, furnitur kayu, karet, serta berbagai produk IKM justru sangat diuntungkan. Ini peluang besar untuk ekspansi ekspor dan penciptaan lapangan kerja,” kata dia.
Ia pun menekankan bahwa strategi Presiden Prabowo Subianto dalam perjanjian ini mencerminkan politik dagang yang berimbang, yakni membuka akses pasar AS bagi produk Indonesia, sekaligus tetap menjaga kepentingan industri dalam negeri.
“Ini bukan sekadar perjanjian dagang biasa. Ini bagian dari strategi besar menjadikan Indonesia pemain penting dalam rantai pasok global, termasuk industri teknologi tinggi seperti semikonduktor. Kita harus melihatnya sebagai peluang, bukan ancaman,” kata Wamenperin.
Baca juga: Prabowo: Perundingan dagang RI-AS saling menguntungkan
Sebelumnya, pada 19 Februari 2026, Presiden RI Prabowo Subianto bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perjanjian dagang resiprokal yang menetapkan besaran tarif maupun pengecualian tarif bagi produk-produk Indonesia.
Perjanjian tersebut akan berlaku 90 hari setelah kedua negara memberikan keterangan tertulis yang menyatakan prosedur hukum di masing-masing negara telah selesai dilakukan.
Adapun perjanjian tersebut dapat dievaluasi dan diubah sewaktu-waktu dengan permohonan dan persetujuan tertulis dari masing-masing pihak.
Baca juga: RI-AS sepakati tarif 0 persen produk tekstil dengan kuota tertentu
Baca juga: Wamen Investasi tekankan akses mineral untuk AS tetap hilirisasi di RI
Pewarta: Rio Feisal
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.