Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster ingin bertemu dengan kepala desa/kelurahan yang dilaporkan tidak menggelar kegiatan dalam memperingati Bulan Bahasa Bali 2026.

“Saya dapat laporan ada desa/kelurahan yang belum melaksanakan Bulan Bahasa Bali, Pak Kadis PMD tolong catat nanti saya undang jangan lah dibilang panggil, ini untuk diajak ngobrol kenapa mereka tidak menyelenggarakan,” ucap Koster di Denpasar, Sabtu.

Setelah Bulan Bahasa Bali digelar sebulan penuh, Gubernur Koster mendapat laporan masih terdapat 45 desa/kelurahan yang tidak menyelenggarakan kegiatan sama sekali, belum lagi desa adat dan lembaga pendidikan.

Padahal sejak tahun pertama Bulan Bahasa Bali digelar 2019 lalu, Pemprov Bali ingin seluruh masyarakat terlibat dalam upaya pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali.

“Apa yang kita dapat, pertama anak-anak kita dari SD sampai perguruan tinggi ikut, berarti kegiatan ini wahana melakukan regenerasi, jadi seperti yang nyurat lontar dengan aksara Bali tidak hanya orang tua tapi anak-anak,” ujarnya.

Baca juga: Komunitas wartawan sulap kritik sosial jadi teater Bulan Bahasa Bali

Sehingga sebagai penerus sudah semestinya berkomitmen melaksanakan warisan ini agar bahasa, aksara, dan sastra Bali langgeng selama Provinsi Bali ada.

Selain desa/kelurahan, Gubernur Bali mendapat laporan masih terdapat 12 desa adat yang tidak menggelar Bulan Bahasa Bali, namun untuk desa adat Koster memaklumi.

“Dari 1.500 desa adat ada beberapa yang tidak menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali, tapi kata Pak Sekda yang tidak karena ada masalah sehingga tidak dapat bantuan APBD untuk desa adat, jadi saya minta Kadis PMA segera selesaikan supaya 2027 bisa mengikuti pola yang dijalankan semua desa adat,” kata Koster.

Pemprov Bali juga tegas terhadap lembaga pendidikan, sebab ditemukan masih terdapat SMA/SMK yang tidak menggelar Bulan Bahasa Bali, padahal SLB saja seluruhnya membuat kegiatan.

Jika berangkat dari data Dinas Kebudayaan Bali, Kepala Disbud Bali Ida Bagus Alit Suryana menyebut dari 1-28 Februari 2026 Pemprov Bali telah melaksanakan 12 kegiatan.

Baca juga: Pemprov jadikan Bulan Bahasa Bali wahana jaga generasi penerus

Acara pertama yaitu sesolahan atau pertunjukan pembukaan dilanjutkan utsawa atau festival nyurat aksara Bali di berbagai sarana yang diikuti 200 siswa SD, SMP, SMA/SMK, dan praktisi.

Selanjutnya telah dilaksanakan 17 lomba atau wimbakara yang diikuti wakil dari kabupaten/kota dan masyarakat umum termasuk secara daring diikuti peserta hingga luar Bali seperti Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan Sulawesi dengan total 1.168 peserta.

Digelar pula widyatula atau seminar sebanyak dua kali yang membahas lontar dengan 958 peserta, kriyaloka atau lokakarya diikuti 516 peserta, diskusi sastra diikuti 183 peserta.

“Diadakan juga sasolahan atau panggung apresiasi sastra Bali berisi pertunjukan oleh 12 sanggar, lalu ruang belajar ramah anak oleh 525 siswa SD, reka aksara atau pameran pemajuan bahasa Bali dengan 1.429 pengunjung,” ucap Bagus Alit.

Selanjutnya utsawa atau festival mengetik aksara Bali dengan keyboard aksara diikuti 150 siswa SMA/SMK, konservasi 1.500 lontar, dan penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama.

Baca juga: Pemkab Gianyar tekankan pentingnya konservasi bahasa Bali

Disbud Bali juga mendata dari 1.500 desa adat, terdapat 1.488 desa yang sudah menggelar kegiatan, sementara 12 lainnya tidak melaksanakan yaitu dua desa adat di Buleleng, satu di Badung, tiga di Klungkung, tiga di Bangli, dan tiga di Gianyar.

Selanjutnya dari 716 desa/kelurahan se-Bali sebanyak 671 desa/kelurahan sudah melaksanakan sedangkan 45 belum terdiri dari sembilan desa/kelurahan di Badung, tujuh di Jembrana, 11 di Bangli, 11 di Buleleng, enam di Gianyar, dan satu di Klungkung.

“Yang tidak melaksanakan ada yang karena keterbatasan anggaran dan ada desa adat yang baru terbentuk dan ada yang masih melakukan upacara agama,” ujarnya.

Di lembaga pendidikan sebanyak 498 SMA/SMK melaksanakan Bulan Bahasa Bali sedangkan tiga tidak, dan untuk SLB ke-16 sekolah melaksanakan kegiatan.

Baca juga: Pemkot Denpasar lestarikan bahasa ibu lewat Bulan Bahasa Bali

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.