Diskon tanpa keselamatan adalah paradoks. Harga terjangkau harus berjalan seiring dengan standar keamanan yang ketat.

Mataram (ANTARA) - Setiap menjelang Lebaran, suasana kota-kota di Indonesia berubah. Terminal dipadati orang dengan tas besar di tangan. Pelabuhan dan bandara menjadi ruang pertemuan antara lelah dan harap. Jalan raya dipenuhi kendaraan yang bergerak serentak menuju satu tujuan yang sama: rumah.

Mudik bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan emosional. Ia memindahkan rindu, menyatukan keluarga, dan menghidupkan kembali ikatan sosial yang sempat terpisah oleh jarak dan pekerjaan.

Di berbagai daerah, denyut itu terasa berbeda, tapi bermakna serupa. Di wilayah kepulauan dan provinsi yang membentang panjang, kompleksitasnya bahkan berlipat.

Arus manusia tidak hanya melintasi jalan darat, tetapi juga menyeberangi laut dan menembus langit. Setiap simpul transportasi menjadi titik krusial yang menentukan apakah perjalanan akan nyaman atau justru penuh risiko.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), suasana itu menemukan wajahnya sendiri. Langit Mataram menjelang Lebaran menghadirkan ritme yang khas. Terminal, pelabuhan, dan bandara menjadi simpul harapan. Orang-orang bergegas, membawa tas dan cerita, menukar penat kota dengan pelukan kampung halaman.

Di provinsi yang menyatukan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa ini, mudik bukan sekadar pergerakan manusia dari satu titik ke titik lain. Ia adalah peristiwa sosial yang menyatukan dua pulau dalam denyut yang sama.

Tahun ini, persiapan mudik 1447 Hijriah terasa lebih dini dan lebih serius. Pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat. Diskon tiket pesawat hingga 18 persen diumumkan.

Program mudik gratis kembali disiapkan. Jalan arteri dari Ampenan hingga Sape disurvei. Operasi Ketupat digelar dengan penekanan pada keselamatan. Semua tampak menjanjikan. Namun, di balik optimisme itu, ada pekerjaan rumah yang tak boleh luput dari telaah.

Mudik adalah ritual tahunan, tetapi tantangannya selalu baru. NTB dengan bentang hampir 500 kilometer dari barat ke timur, dengan jalur darat, laut, dan udara yang saling terhubung, membutuhkan manajemen transportasi yang presisi.

Di sinilah negara diuji, bukan hanya pada kemampuan menyediakan armada, tetapi juga memastikan setiap perjalanan berakhir dengan selamat.

Baca juga: Kemenhub siapkan potongan tiket pesawat 18 persen mudik Lebaran 2026

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.