Jakarta (ANTARA) - Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan investor global cenderung mengalihkan dananya ke aset safe haven seperti emas, dolar Amerika Serikat (AS), dan obligasi pemerintah AS.

Pengalihan dana investasi itu dilakukan seiring meningkatnya tensi konflik antara Iran dengan AS dan Israel, yang menyebabkan investor mengurangi eksposurnya dari pasar saham, utamanya emerging markets termasuk Indonesia.

“Di domestik, investor akan selektif ke saham energi atau komoditas yang diuntungkan kenaikan harga minyak,” ujar Reydi saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.

Sejauh ini, Reydi melihat bahwa konflik antara ketiga negara tersebut dampaknya akan cenderung ke jangka pendek dan berbasis sentimen.

Baca juga: Menko Airlangga: Perang AS-Iran berpotensi picu kenaikan harga BBM

Apabila konflik tidak meluas dan tidak mengganggu pasokan energi global secara signifikan, menurutnya, pasar biasanya cepat berkonsolidasi dan rebound (berbalik menguat)

“Namun bila eskalasi membesar, efeknya bisa lebih dalam dan berkepanjangan,” ujar Reydi.

Bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Ia menyebut dampaknya cenderung negatif untuk jangka pendek karena investor asing mengurangi eksposur di emerging markets, bersamaan dengan tertekannya Rupiah, dan volatilitas meningkat.

“Kenaikan harga minyak juga menambah kekhawatiran inflasi,” ujar Reydi.

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.