bagi negara seperti Indonesia, peran diplomasi bukan sekadar merespons konflik yang sudah terjadi, tetapi juga berusaha memperlambat eskalasi ketegangan melalui komunikasi yang konsisten, kerja sama multilateral, dan pendekatan dialog yang berkesinam
Jakarta (ANTARA) - Dalam politik global, perdamaian justru sering menjadi fondasi tak terlihat yang menopang semua urusan sehari-hari di lingkup domestik.
Ketika dunia kembali panas oleh konflik militer di Timur Tengah seperti yang terjadi saat ini, Indonesia, jelas, berada sangat jauh dari pusat konflik itu. Kendatipun begitu, dalam ekonomi modern yang saling terhubung, jarak geografis tidak lagi berarti bahwa dampak konflik juga bakal berjarak. Pasalnya, gelombang konflik bisa datang dalam bentuk yang lebih halus, seperti inflasi energi atau ketidakpastian pasar global.
Maka, sikap Indonesia yang menyerukan dialog dan diplomasi terkait konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari tradisi politik luar negeri yang sejak awal kemerdekaan menempatkan perdamaian sebagai investasi jangka panjang, dan bukan sekadar sikap moral sesaat.
Dalam kajian hubungan internasional kontemporer, ada konsep yang disebut sebagai dilema keamanan. Inti konsep ini sederhana, yaitu upaya satu negara memperkuat keamanan justru kerap ditafsirkan sebagai ancaman oleh negara lain, sehingga malah ikut memicu perlombaan senjata atau memicu eskalasi ketegangan.
Konsep dilema keamanan ini terasa relevan ketika melihat dinamika antara kekuatan besar dewasa ini. Faktanya, setiap peningkatan kekuatan militer sering dibaca bukan sebagai ikhtiar pertahanan diri semata, melainkan sebagai sinyal politik. Buntutnya, dunia bisa masuk dalam spiral ketidakpercayaan yang sulit dihentikan.
Indonesia mungkin tidak memiliki kekuatan militer atau ekonomi sebesar negara adidaya. Akan tetapi, dalam jagad diplomasi, kekuatan tidak selalu ditakar dari senjata atau produk domestik bruto (PDB). Terkadang kekuatan justru terletak pada kemampuan menjadi pihak yang dipercaya untuk berbicara dengan semua pihak.
Sejarah diplomasi Indonesia setidaknya telah menunjukkan hal tersebut. Sejak Konferensi Asia Afrika (KAA), Indonesia telah mencoba memposisikan diri sebagai negara yang mendorong dialog ketimbang konfrontasi.
Dalam konteks konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran sekarang ini, seruan untuk saling menahan diri memang mungkin terdengar sangat normatif. Namun, dalam diplomasi, aspek normatif tak jarang bisa menjadi langkah pertama sebelum tindakan konkret bisa terjadi, terutama dalam konflik yang rumit.
Maka, tawaran Indonesia untuk memfasilitasi dialog sebenarnya cukup rasional. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tak ingin cuma menjadi penonton, melainkan pula menjadi aktor yang mencoba ikut mempengaruhi arah percakapan global.
Sudah barang tentu, setiap tawaran mediasi harus disertai pula kepercayaan dari kedua belah pihak yang berkonflik. Tanpa itu, mediasi hanya akan menjadi pernyataan politik yang terlihat indah di atas kertas.
Dalam soal konflik di Timur Tengah, Indonesia sesungguhnya punya pula kepentingan pragmatis. Stabilitas Timur Tengah berkaitan erat dengan pasokan energi dunia. Ketika harga minyak dunia naik, Indonesia bakal ikut merasakan tekanan pada subsidi energi.
Subsidi energi sendiri sering menjadi isu politik domestik yang sensitif. Nah, tatkala harga energi melonjak, pemerintah harus memilih antara menjaga daya beli rakyat atau menekan defisit fiskal. Di sinilah terlihat bagaimana perdamaian global sebenarnya adalah bagian yang tak terpisahkan dari keamanan ekonomi domestik.
Gejolak eksternal
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.