Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencetak rekor tertinggi di level 53,8 pada Februari 2026 menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi situasi global.
“Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis,” kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Febrio menyebut penguatan manufaktur didorong oleh lonjakan permintaan baru yang diimbangi pertumbuhan produksi secara signifikan.
Sentimen bisnis secara keseluruhan tetap solid, ditopang ekspektasi penguatan permintaan serta stabilitas harga yang diperkirakan membaik.
Baca juga: S&P catat PMI manufaktur RI Februari tembus 53,8, tertinggi dua tahun
PMI Manufaktur sejumlah mitra dagang utama Indonesia juga menunjukkan tren ekspansif, seperti Vietnam (54,3), Thailand (53,5), India (57,5), Jepang (53,0), dan Amerika Serikat (51,2), sehingga mendukung prospek ekspor manufaktur nasional.
Sentimen yang positif tersebut juga didukung menguatnya permintaan domestik.
Febrio merinci Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 7,9 persen (year-on-year/yoy) pada Januari 2026, didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman, sandang, dan mobilitas masyarakat.
Penguatan konsumsi juga terlihat dari penjualan kendaraan bermotor yang positif, dengan penjualan sepeda motor naik 3,1 persen dan penjualan mobil tumbuh 7,0 persen.
Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.