Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan tidak ada lagi petani "berteriak" menyusul kebijakan penyesuaian pupuk subsidi turun 20 persen guna meningkatkan produktivitas pertanian dan menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional.

"Sekarang petani mana ada 'berteriak'? Enggak ada!," kata Mentan Amran dikonfirmasi mengenai perkembangan pupuk subsidi di sela kegiatan Pelepasan Ekspor Unggas dan Produk Turunannya ke negara Jepang, Singapura dan Timor Leste di Jakarta, Selasa (3/3).

Menurutnya, kebijakan tersebut berdampak positif karena keluhan petani terkait pupuk semakin berkurang, sementara pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan distribusi secara bertahap dan terukur.

"Dan (memang masalah pertanian) tidak bisa selesai sekaligus," tegasnya.

Baca juga: Kementan perkuat hilirisasi sawit sebagai andalan RI di pasar global

Ia juga menegaskan kebijakan turunnya harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen tetap berlanjut sebagai bagian strategi pemerintah menjaga produktivitas pertanian dan mengawal capaian swasembada nasional.

"Masih lanjut lah. Itulah hebatnya Presiden kita (Prabowo Subianto), pemerintahan sekarang. Volume pupuk dipenuhi, kemudian harga turun 20 persen," tutur Amran.

Ia menegaskan selain harga yang diturunkan, pemerintah juga menjamin ketersediaan volume pupuk subsidi agar kebutuhan petani terpenuhi dan tidak menghambat musim tanam di berbagai daerah sentra produksi.

Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan pelaku usaha agar sektor pertanian bergerak berkelanjutan serta memperkuat fondasi swasembada pangan nasional.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.