Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai Indonesia perlu menyasar pasar khusus atau niche market untuk memperkuat peluang ekspor beras ke Timur Tengah di tengah persaingan dengan negara eksportir lain.
Yusuf mengatakan langkah pemerintah membuka pasar beras ke Arab Saudi merupakan inisiatif positif, namun upaya menjadikan Indonesia sebagai eksportir beras yang konsisten masih menghadapi sejumlah tantangan struktural.
"Penetrasi beras Indonesia di pasar ritel Timur Tengah akan lebih realistis jika difokuskan pada niche market, seperti kebutuhan diaspora Indonesia, pekerja migran, atau segmen beras khusus dan premium yang memiliki nilai tambah," kata Yusuf kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan peluang Indonesia untuk bersaing langsung di pasar beras medium relatif menantang karena dominasi negara eksportir utama seperti Thailand dan Vietnam yang memiliki efisiensi biaya produksi, perbandingan skala ekonomi, serta rantai pasok global yang dinilainya lebih besar.
Karena itu, menurut dia, strategi ekspor beras Indonesia perlu diarahkan pada segmen pasar tertentu yang tidak sepenuhnya bergantung pada persaingan harga, sehingga produk beras Indonesia tetap memiliki ruang kompetitif di pasar internasional.
Selain faktor persaingan pasar, Yusuf juga mengingatkan adanya risiko eksternal yang dapat memengaruhi kelancaran ekspor, terutama eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur logistik global.
"Gangguan pada jalur pelayaran strategis dapat memicu kenaikan biaya angkut laut dan premi asuransi kapal sehingga berpotensi membuat harga beras Indonesia di pasar tujuan menjadi kurang kompetitif," ujarnya.
Yusuf menjelaskan kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya logistik, sehingga harga beras Indonesia ketika tiba di pasar Timur Tengah berpotensi lebih mahal dibandingkan produk dari negara eksportir lain.
Di tengah peluang ekspor tersebut, ia menilai pemerintah perlu memastikan stabilitas pasokan beras di dalam negeri sebagai fondasi untuk memperkuat strategi perluasan ekspor ke pasar internasional.
Ia menekankan akurasi data neraca beras nasional, yakni perbandingan antara produksi dan konsumsi, perlu dipastikan agar ekspor benar-benar berasal dari surplus produksi yang riil.
"Pemerintah juga perlu menjaga cadangan beras pemerintah (CBP) di level aman agar tidak memicu tekanan harga di dalam negeri," lanjut Yusuf.
Sebelumnya, pemerintah melalui Perum Bulog mulai membuka pasar beras Indonesia ke Arab Saudi melalui ekspor perdana beras untuk kebutuhan jamaah haji Indonesia.
Bulog menjadwalkan ekspor sebanyak 2.280 ton beras dalam dua gelombang pengiriman pada 28 Februari dan 4 Maret 2026 sebagai langkah awal penetrasi ekspor di Timur Tengah.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan ekspor tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar beras Indonesia di Arab Saudi, termasuk pasar ritel modern sebagai langkah lanjutan.
Sejumlah jaringan ritel di Arab Saudi, seperti Bin Dawood dan Lulu, disebut telah menunjukkan minat untuk menyerap beras Indonesia bagi pasar ritel setempat.
Selain itu, Bulog juga merencanakan pembangunan gudang logistik seluas sekitar 2-3 hektare di kawasan Kampung Haji, Arab Saudi, sebagai pusat distribusi beras Indonesia bagi jamaah haji maupun pasar komersial di negara tersebut.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kehadiran beras Indonesia di pasar Timur Tengah sekaligus membuka peluang ekspor pangan nasional secara lebih berkelanjutan.
Baca juga: Pemerintah ekspor 2.280 ton beras untuk jamaah haji RI di Arab Saudi
Baca juga: Ini penegasan Mentan terkait rencana impor 1.000 ton beras AS
Baca juga: BPS proyeksikan produksi beras Februari-April 2026 capai 12,2 juta ton
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.