Subsidi tidak dinaikkan harganya, tapi dibatasi penggunaannya. Dengan cara ini, beban subsidi BBM tidak perlu naik signifikan
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai pemerintah perlu memperbaiki kebijakan penggunaan BBM bersubsidi tepat sasaran guna menjaga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari risiko defisit akibat lonjakan harga minyak dunia imbas konflik di Timur Tengah.
“Kalau kaitannya dengan mencegah defisit, pertama yang perlu diantisipasi adalah jika harga minyak meningkat, sehingga kebutuhan subsidi energi di APBN juga naik,” ujar Faisal dihubungi di Jakarta, Rabu.
Faisal menekankan perlunya kebijakan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi pada kelompok kendaraan tertentu.
“Subsidi tidak dinaikkan harganya, tapi dibatasi penggunaannya. Dengan cara ini, beban subsidi BBM tidak perlu naik signifikan,” katanya.
Selain efisiensi subsidi, Faisal mengatakan pemerintah perlu mempercepat strategi diversifikasi energi melalui biofuel.
Faisal menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang berproses mengurangi impor BBM dengan cara meningkatkan kandungan biodiesel dalam BBM domestik. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan ketergantungan terhadap impor.
Ia merujuk pada pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menargetkan penghentian impor solar pada April 2026.
Menurut Faisal, apabila kandungan solar dari dalam negeri dicampur dengan biofuel, maka kebutuhan impor dapat ditekan. Jika upaya ini berhasil pada solar, maka penerapan serupa juga bisa dilakukan pada bensin.
Ia menekankan bahwa proses ini perlu upaya serius dan dipercepat karena komponen biofuel masih harus ditingkatkan dalam beberapa bulan ke depan.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan realokasi dan refocusing anggaran dari program-program prioritas yang menyerap banyak dana.
“Sebagian anggaran bisa diturunkan untuk mengantisipasi dampak global yang berpotensi meningkatkan defisit APBN,” ujarnya.
Baca juga: Pengamat: "Niche market" kunci ekspor beras RI ke Timur Tengah
Baca juga: Imbas AS-Iran, CORE perkirakan defisit APBN bisa melebar Rp200 T
Baca juga: CORE: Konflik Iran-Israel bisa picu lonjakan harga minyak dunia
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.