Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan respon cepat untuk menanggulangi pencemaran udara di Ibu Kota saat musim kemarau yang diprediksi terjadi pada awal Mei hingga Agustus mendatang.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa di Jakarta, Kamis, mengatakan, langkah ini pernah dikeluarkan pada beberapa tahun lalu namun belum memiliki payung hukum.

"Kami pernah buat 10 langkah respon cepat penanggulangan pencemaran udara. Tetapi karena kondisi kualitas udara membaik pada 2024, 2025 dan mudah-mudahan sekarang, belum sempat kami olah menjadi satu regulasi," kata dia.

Erni mengatakan, DLH DKI akan kembali melakukan langkah cepat penanganan pencemaran udara saat kemarau, meliputi peningkatan kualitas sistem pemantau kualitas udara dan uji emisi kendaraan bermotor.

Baca juga: Pengendalian pencemaran udara perlu kolaborasi lintas wilayah

Di antara langkah penanganan pencemaran udara, penyemprotan "water mist" termasuk yang pernah diterapkan di Jakarta. Saat ini tercatat 100 gedung di Jakarta sudah menerapkan upaya untuk menekan polusi udara.

"Kami pasang 'water mist' di beberapa gedung, sekarang sudah terpasang 100," kata dia.

Di sisi lain, Pemprov DKI memiliki Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang saat ini sedang dievaluasi dari berbagai aspek, mulai dari tren PM2.5, beban emisi per sektor hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

"SPPU sedang dievaluasi. SPPU kami bagi lagi, kami cari di kegiatan mana yang paling efektif dalam menanggulangi pencemaran udara Jakarta," kata Erni.

Baca juga: DKI susun Raperda Pengelolaan Mutu Udara untuk kendalikan pencemaran

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau di Indonesia pada tahun ini akan lebih panjang dan relatif lebih kering jika dibandingkan dengan 2025.

Awal musim kemarau diprediksi akan dimulai pada April 2026 di sejumlah wilayah daerah Indonesia, yaitu 114 zona musim dan secara bertahap akan mulai dirasakan di wilayah lain pada Mei dan Juni.

Kondisi tersebut memperlihatkan awal musim kemarau di Indonesia datang lebih cepat pada tahun ini dibandingkan kondisi normal.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.