kenaikan harga akibat Perang Iran adalah juga ancaman politik bagi Trump dan Partai Republik
Jakarta (ANTARA) - Sebelum diserang AS dan Israel, Iran jauh-jauh hari sudah mengancam akan menutup Selat Hormuz.
Dan negara itu benar-benar melakukannya sekarang, walau AS mengklaim angkatan laut Iran sudah lumpuh sehingga tak mungkin menutup selat itu.
Tapi sejak pecah perang Iran AS akhir pekan silam, sedikitnya empat kapal tanker dihantam oleh drone Iran.
Akibatnya, menurut perusahaan pelacak data maritim Lloyd’s List Intelligence, lalu lintas maritim ke Teluk Persia anjlok sampai 80 persen sejak 1 Maret.
Presiden Donald Trump kemudian berikrar untuk mengerahkan Angkatan Laut AS guna mengawal pelayaran komersil ke dan dari Teluk Persia yang pastinya harus melalui Selat Hormuz.
"Jika perlu Angkatan Laut AS akan mengawal kapal-kapal tanker yang melalui Selat Hormuz, secepatnya," tulis Trump dalam media sosial Truth Social beberapa waktu lalu.
Selat Hormuz adalah pintu masuk ke Teluk Persia. Sekitar 20 juta barel minyak per hari dikapalkan melalui selat ini. Angka itu adalah juga 20 persen dari total perdagangan minyak global.
Hampir seluruh ekspor minyak Arab Saudi, Iraq, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, melalui selat ini. Negara-negara itu, ditambah Qatar, Bahrain, dan Oman, adalah juga produsen gas terkemuka di dunia. India, Jepang, China, Eropa, dan Afrika adalah pasar energi besar mereka.
Selat sempit
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.