Jakarta (ANTARA) - Forum Human Capital Indonesia (FHCI) menekankan pentingnya mengukur kesehatan organisasi untuk memastikan budaya kerja sejalan dengan strategi bisnis dalam acara FHCI Connect Expert Series 8 yang digelar di Kantor Pusat PT Perkebunan Nusantara III (Persero), Jakarta, Rabu (4/3).

Mengangkat tema “The Art of Ambidextrous Human Capital: Unleashing the Potential of High Impact, Value-Creating Talent”, forum ini menghadirkan dua narasumber, yakni Leader of People & Organizational Performance Practice Southeast Asia McKinsey Company Philia Wibowo serta Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PT PLN (Persero) Yusuf Didi Setiarto.

Philia menjelaskan salah satu cara mengukur apakah budaya organisasi menjadi penggerak atau penghambat kinerja adalah melalui pendekatan Organization Health Index atau OHI. OHI merupakan instrumen untuk menilai kesehatan organisasi, tidak hanya dari sisi kinerja keuangan, tetapi juga dari cara kerja di dalam perusahaan.

Baca juga: FHCI dorong teknologi dan tata kelola SDM untuk produktivitas BUMN

“OHI melihat apakah kepemimpinan, sistem akuntabilitas, koordinasi, hingga motivasi karyawan sudah selaras dengan strategi bisnis. Dari situ bisa terlihat apakah organisasi ada di kelompok kinerja atas, menengah, atau bawah,” ujarnya.

Menurut dia, banyak persoalan eksekusi bisnis yang berakar pada budaya. Ia mencontohkan sistem penilaian kinerja yang tidak berjalan optimal karena budaya sungkan dalam memberi umpan balik.

“Kalau penilaian tidak objektif karena tidak enak memberi masukkan, maka sistem penghargaan dan pengembangan talenta tidak akan berdampak maksimal,” katanya.

Baca juga: FHCI Connect Expert Series 5 dorong penguatan keterlibatan pegawai

Ia menambahkan proses seperti penetapan target, pengambilan keputusan investasi, hingga dialog kinerja juga membentuk karakter budaya, apakah cenderung otoritatif atau memberdayakan.

Sementara itu, Yusuf Didi Setiarto menekankan bahwa budaya dan manusia menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara performa operasional dan transformasi jangka panjang di PLN.

Ia mencontohkan tantangan membangun budaya keselamatan kerja di PLN yang beroperasi di seluruh wilayah Indonesia. Pada 2019, insiden kecelakaan kerja akibat tersengat listrik masih terjadi dalam jumlah puluhan kasus per tahun.

Baca juga: FHCI dorong pemanfaatan AI beretika dalam transformasi digital BUMN

“Sekarang trennya menurun signifikan. Budaya keamanan terus kami perkuat melalui evaluasi manajerial dan pemanfaatan teknologi pengawasan di lapangan,” ujarnya.

Selain keselamatan, PLN juga mendorong budaya efisiensi dan orientasi pelanggan melalui digitalisasi gudang dan penggunaan barcode untuk meningkatkan akuntabilitas aset.

“Kami memang perusahaan monopoli, tapi pelanggan tetap yang utama,” kata Didi.

Melalui forum ini, FHCI mendorong pimpinan pengelola sumber daya manusia BUMN memastikan fungsi SDM mampu menyeimbangkan kinerja jangka pendek dan penguatan kemampuan organisasi di masa depan secara terukur.

Baca juga: FHCI dorong transformasi SDM hadapi era AI

Baca juga: FHCI dorong optimalisasi Individual Development Plan dengan AI

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.