Jakarta (ANTARA) - Serangan terhadap Iran oleh aliansi Amerika Serikat dan Israel menjadi titik balik sejarah yang memicu refleksi mendalam mengenai hakikat pertahanan nasional. Peristiwa wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bukan sekadar benturan perangkat keras militer canggih, melainkan ujian ideologi, peran ulama, dan pertahanan nasional yang telah melembaga selama puluhan tahun dalam sebuah negara.
Doktrin Wilayatul Faqih telah menjadi fondasi teokrasi Iran sejak Revolusi 1979. Secara ideologis, konsep ini memberikan legitimasi religius absolut kepada pemimpin tertinggi sebagai wakil imam zaman, yang menyatukan otoritas spiritual dan politik. Ulama adalah rahbar, pemimpin tertinggi; legitimasi politik, moral, dan spiritual tertinggi. Rahbar adalah orang saleh, ahli ilmu, dan piawai. Karenanya, ia dihormati dan dipatuhi oleh semua rakyat.
Menelusuri sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia, kita akan menemukan preseden yang sangat relevan untuk memahami dinamika antara ideologi, ulama, dan pertahanan nasional, sebagaimana yang terjadi di Iran. Masa lalu kita mengajarkan bahwa eliminasi terhadap figur puncak kepemimpinan malah gagal memadamkan api perlawanan rakyat. Ketika ulama dan pemimpin moral "diamputasi" oleh kekuatan kolonial, struktur perjuangan tidak lantas runtuh, melainkan bertransformasi menjadi energi kolektif yang lebih sulit dibendung oleh lawan.
Kita mulai dari memori Perang Jawa yang berlangsung sengit antara tahun 1825 hingga 1830. Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan besar yang mengguncang stabilitas Pemerintah Hindia Belanda di seluruh penjuru Jawa. Perang ini meletus pada tanggal 20 Juli 1825 hingga 1830. Sang Pangeran ditangkap melalui tipu daya dalam sebuah perundingan di Magelang pada 28 Maret 1830. Diponegoro diasingkan ke Manado dan kemudian ke Makassar, hingga ia wafat pada tanggal 8 Januari 1855. Secara kalkulasi militer konvensional, perang tersebut dianggap berakhir dengan penangkapan pemimpin utamanya.
Hanya saja, secara moral dan sosiologis, perlawanan Diponegoro melahirkan memori kolektif yang abadi tentang perlawanan terhadap ketidakadilan dan penjajahan. Perlawanan Warok di Ponorogo dan sejumlah perlawanan lokal setelahnya telah berhasil membuat Belanda kerepotan.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.