Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi informasi di Indonesia harus ditopang ketersediaan energi bersih, stabil, dan berkelanjutan agar mampu bersaing di ekonomi digital global.

Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, mengatakan transformasi digital yang meliputi artificial intelligence, big data, hingga cloud computing membutuhkan konsumsi listrik dalam jumlah besar, terutama untuk operasional pusat data (data center).

Tanpa dukungan energi yang memadai, ambisi Indonesia menjadi pemain utama ekonomi digital akan sulit tercapai.

“Perkembangan teknologi seperti artificial intelligence, big data, dan cloud computing membutuhkan energi dalam jumlah sangat besar. Jika kita ingin Indonesia menjadi pemain penting dalam ekonomi digital global, maka kita harus memastikan pasokan energi yang cukup, stabil, dan semakin bersih,” ujar Eddy.

Pernyataan itu disampaikan Eddy saat menjadi pembicara kunci dalam agenda MPR Goes to Campus di Kampus Bina Nusantara (Binus) Bandung, Jawa Barat pada, Kamis (4/3).

Ia menjelaskan sejumlah negara yang menjadi pusat pengembangan AI global mulai memprioritaskan energi terbarukan sebagai sumber utama operasional pusat data mereka.

“Perusahaan teknologi global seperti Google, Microsoft, hingga Amazon menempatkan energi terbarukan sebagai fondasi operasional data center mereka. Ini soal keberlanjutan lingkungan, sekaligus juga soal efisiensi, stabilitas energi, dan daya saing ekonomi,” ujar dia.

Eddy menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mendukung agenda tersebut, mengingat potensi energi terbarukan nasional yang mencapai ribuan gigawatt dari sumber surya, hidro, panas bumi, dan angin.

“Indonesia memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 3.600 gigawatt dari berbagai sumber. Ini adalah modal besar untuk menjadikan Indonesia sebagai hub ekonomi digital sekaligus pusat pengembangan teknologi di kawasan,” katanya.

Ia mendorong percepatan investasi dan reformasi kebijakan di sektor energi terbarukan agar mampu menopang pertumbuhan industri digital dan AI secara berkelanjutan.

Selain itu, Eddy menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem teknologi nasional.

“Kampus seperti Binus memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta-talenta digital masa depan. Di saat yang sama, riset di bidang energi terbarukan dan teknologi informasi harus berjalan beriringan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk teknologi, tetapi juga pencipta inovasi,” ungkapnya.

Menurut Eddy, percepatan transisi energi juga membuka peluang ekonomi baru, termasuk penciptaan lapangan kerja hijau di sektor teknologi dan energi.

“Transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga agenda ekonomi. Dengan mengembangkan energi terbarukan untuk menopang ekosistem teknologi digital, kita dapat menciptakan industri baru, lapangan kerja baru, dan meningkatkan daya saing Indonesia di masa depan,” ujar dia.

Baca juga: Wakil Ketua MPR: Transisi energi terbarukan perluas lapangan kerja

Baca juga: MPR RI dorong pemerintah antisipasi dampak gejolak Selat Hormuz

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.