Jakarta (ANTARA) -
Kasus kekerasan yang terjadi belakangan ini dinilai tidak muncul secara tiba-tiba. Psikolog menyebut biasanya terdapat tanda-tanda awal krisis emosional yang sering luput dikenali.
Psikolog Klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog mengatakan seseorang umumnya tidak langsung berada pada kondisi emosional berbahaya, melainkan melalui proses yang bertahap.
“Biasanya muncul tanda seperti lebih mudah tersinggung, cepat marah, sering merasa sangat sedih, atau justru merasa kosong dalam waktu lama. Ada juga yang mulai menarik diri, kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai, serta mengalami perubahan pola tidur dan makan,” ujar Ratih saat dihubungi ANTARA, Kamis.
Baca juga: Kebiasaan di pagi hari ini bantu kesehatan mental
Menurut psikolog yang juga menjadi Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI itu, tanda lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya pikiran negatif yang semakin kuat, seperti merasa tidak berharga, putus asa, atau merasa tidak ada jalan keluar dari masalah. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku impulsif hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Sementara itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog ketika dihubungi oleh ANTARA, Kamis, menilai tanda krisis emosional pada era digital kerap semakin sulit dikenali karena banyak individu memilih menyembunyikan perasaan mereka.
“Sekarang banyak anak muda lebih memilih menutup diri atau meluapkan emosi di akun media sosial yang tidak diketahui orang terdekatnya. Akibatnya, lingkungan sekitar tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam tekanan,” kata Novi.
Ia menambahkan, individu yang tampak diam dan patuh belum tentu berada dalam kondisi baik-baik saja. Minimnya ruang dialog di keluarga maupun sekolah dapat membuat seseorang tidak memiliki tempat aman untuk mengekspresikan perasaan.
Kedua psikolog tersebut menekankan pentingnya kepekaan lingkungan dalam mengenali perubahan perilaku dan membuka ruang komunikasi agar tekanan emosional tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan.
Baca juga: Sosiolog: Literasi pengendalian emosi cegah kekerasan perempuan
Baca juga: Mendikdasmen rancang budaya sekolah aman jaga kesehatan jiwa siswa
Baca juga: Psikolog jelaskan mekanisme otak saat emosi berujung kekerasan
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.