Jakarta (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan hembusan abu vulkanik dari Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mencapai sekitar 1,2 kilometer dari kawah aktif saat terjadi erupsi hari ini.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam keterangan di Jakarta, Kamis malam, mengatakan bahwa kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah timur laut serta timur.
Secara instrumental, erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 14,8 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 37 detik.
"Erupsi pada 5 Maret 2026 pukul 16.45 WITA itu dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.200 meter di atas puncak atau sekitar 2.784 meter di atas permukaan laut," kata Lana.
Badan Geologi menyatakan Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada status Level II atau Waspada, sehingga masyarakat di sekitar gunung maupun pengunjung atau wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat tetap tenang serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Selain itu, warga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, terutama di wilayah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Masyarakat yang terdampak hujan abu juga diimbau menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan pada sistem pernapasan akibat paparan abu vulkanik.
Baca juga: Gunung Lewotobi di NTT meletus, warga diminta jauhi pusat erupsi
Baca juga: Pembangunan huntap korban erupsi Lewotobi berjalan di empat titik
Baca juga: Gunung Lewotobi Laki-laki berada pada fase penurunan jangka pendek
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.