Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengatakan keluarga yang mampu menciptakan lingkungan yang sehat secara emosional dapat membangun kepercayaan diri anak.
"Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aman secara emosional akan lebih mampu mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, serta ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan," ujar Isyana dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan, kehangatan hubungan antara orang tua dan anak serta komunikasi yang sehat di dalam keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan emosi anak sejak dini.
Ia menegaskan, perubahan lingkungan tumbuh kembang anak di era digital menuntut peran orang tua yang semakin aktif dalam melakukan pendampingan.
"Arus informasi yang cepat dan interaksi sosial di ruang virtual berpotensi memengaruhi kondisi emosional anak apabila tidak diimbangi dengan perhatian dan pengasuhan yang tepat," katanya.
Penguatan pengasuhan dalam keluarga tersebut juga sejalan dengan Program Prioritas Presiden dalam pembangunan sumber daya manusia, di antaranya peningkatan kualitas kesehatan, pemenuhan gizi anak, serta pendidikan yang bermutu sebagai fondasi lahirnya generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Sebelumnya pada Kamis (5/3), Kemendukbangga/BKKBN menekankan pentingnya fungsi keluarga dan pengasuhan positif pada penetapan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak yang ditandatangani oleh sembilan menteri.
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji menyatakan komitmen untuk mengimplementasikan SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak yang menjadi kekuatan bagi keluarga.
"Kami siap mendukung bersama dengan kementerian/lembaga yang lain. Ada 600 ribu tim pendamping keluarga se-Indonesia yang mendampingi 74 juta keluarga yang dapat diberdayakan untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa anak," katanya.
Hal itu, kata dia, dilakukan melalui edukasi delapan fungsi keluarga yang menjadi kekuatan di Kemendukbangga/BKKBN.
Ia menyoroti kasus bunuh diri pada kelompok usia anak (0-15 tahun) yang meningkat dari 604 kasus pada 2022 menjadi 1.498 kasus pada 2024 berdasarkan data Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Di samping itu, dalam hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja pada 2024, tercatat 62,19 persen anak dengan masalah kesehatan jiwa juga mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.