Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno sepakat dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan cadangan minyak dan gas (migas) nasional menjadi 90 hari.
Dia menyebut saat ini posisi cadangan migas nasional hanya 20 hari, sehingga peningkatan diperlukan untuk penguatan ketahanan cadangan migas saat pasokan migas dunia terganggu akibat perang yang tengah berkecamuk di Timur Tengah.
“Karena Indonesia adalah net importer migas, saya sepakat dengan instruksi Presiden Prabowo agar cadangan strategis migas nasional ditingkatkan sampai dengan 90 hari,” katanya.
Dia mengatakan setiap negara yang memiliki kebutuhan migas untuk menggerakkan perekonomian dalam negerinya memerlukan ketersediaan dan kehandalan pasokan agar berbagai sektor industri, seperti pupuk, petrokimia dan transportasi bisa tetap beroperasi di saat kondisi geopolitik meruncing seperti dialami saat ini.
Baca juga: Bahlil usulkan proyek penyimpanan BBM dan kilang ke Presiden
Menurut dia, penguatan ketahanan cadangan migas menjadi sangat penting di saat pasokan migas dunia terganggu akibat perang yang tengah berkecamuk di Timur Tengah
Dijelaskannya bahwa saat ini tidak saja berbicara tentang _availability of supply_ (ketersediaan pasokan), tetapi lebih dari itu _reliability of supply_ (kehandalan pasokan).
"Tidak bisa dibayangkan jika cadangan migas saat ini terkuras habis dan kita belum mendapatkan pasokan tambahan. Mobilitas masyarakat dan kegiatan industri praktis terhenti,” ujarnya.
“Mobil dan sepeda motor tidak bisa bergerak, pesawat udara diistirahatkan di bandara dan kapal laut akan menumpuk di pelabuhan,” sambungnya.
Begitu juga dengan industri yang membutuhkan minyak dan gas sebagai bahan bakunya, lanjut dia, seperti pabrik pupuk, produsen plastik, petrokimia akan stop berproduksi.
“Oleh karenanya, kita harus memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan volume cadangan strategis migas sesuai arahan Presiden Prabowo," kata Eddy.
Menurut Doktor Ilmu Politik UI tersebut, sampai sekarang belum ada yang bisa memprediksi kapan perang Israel-AS dan Iran akan selesai, sehingga Indonesia perlu segera berbenah.
"Langkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain diversifikasi pasokan impor untuk memastikan pasokan migas dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah dapat diperoleh Indonesia," terangnya.
Baca juga: Dasco: Pemerintah telah siapkan solusi amankan BBM di tengah krisis
Baca juga: Prabowo instruksikan antisipasi kelangkaan BBM-LPG jelang Lebaran
Eddy juga menjelaskan urgensi pembangunan _storage capacity_ (kapasitas penyimpanan) migas yang harus diprioritaskan.
MPR, kata dia, mendorong penyediaan anggaran untuk membangun kapasitas penyimpanan tambahan, serta pembelian komoditas migas yang akan menjadi penyangga migas dalam negeri dalam kondisi kedaruratan.
"Oleh karena itu kami mendukung pembentukan “National Petroleum Fund” yang antara lain dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi dalam negeri," tegasnya.
Dia memandang bahwa penebalan cadangan migas nasional tetap akan bermanfaat sekalipun kondisi geopolitik berjalan normal
Menurut dia, di masa non kritis/darurat cadangan penyangga ini bisa berfungsi sebagai peredam gejolak harga komoditas, di saat harga migas naik mendadak di masa mendatang.
"Krisis geopolitik dan perang di Timur Tengah saat ini mengajarkan bahwa ketahanan energi sangat vital bagi keberlangsungan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, sudah sepatutnya ketahanan energi disejajarkan dengan ketahanan nasional," kata Eddy.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga imbau masyarakat gunakan energi secara bijak
Baca juga: Airlangga pastikan belum ada rencana kenaikan harga BBM subsidi
Baca juga: Bahlil sebut harga BBM subsidi aman hingga Lebaran
Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.