Jakarta (ANTARA) - Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengungkapkan beberapa produk impor mengalami keterlambatan pasokan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

"Kita berusaha memenuhi stok. Stok yang ada dari lokal cukup terjaga, namun untuk impor, kami menghadapi masalah. Mungkin kita bisa koordinasi bahwa barang di mal, barangnya yang impor agak telat, sehingga mungkin barang ini kita agak terganggu untuk penjualannya," kata Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah di sela peluncuran Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 di Jakarta, Jumat.

Ia tidak mengungkapkan secara rinci penyebab terhambatnya laju barang impor ke Indonesia, menyusul adanya serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran baru-baru ini.

Namun, Budihardjo mengatakan faktor utama yang paling memengaruhi adalah momentum liburan besar seperti Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Tahun Baru Imlek, Ramadhan serta Idul Fitri yang semuanya berada di awal tahun.

Selain itu, ia juga mendorong koordinasi yang lebih kuat antarkementerian/lembaga terkait, termasuk dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kementerian Pertanian (Kementan), serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu.

"Ini agar ketersediaan barang dapat terjaga dan momentum penjualan ritel pada periode besar seperti Ramadhan, Imlek, Cap Go Meh, dan Lebaran dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional," ujar dia.

Budihardjo mengatakan momentum Ramadhan dan Lebaran merupakan periode paling penting bagi industri ritel nasional sekaligus penggerak utama konsumsi domestik.

Melalui program Belanja Nasional seperti BINA Lebaran 2026, ia sebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong masyarakat berbelanja di dalam negeri, memperkuat perputaran ekonomi nasional, serta memberikan dampak yang lebih luas bagi produsen, pemasok, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), hingga tenaga kerja di sektor ritel.

Sementara itu, Direktur The Foodhall Lenny Tjandra menilai peran ritel bukan hanya hadir pada momentum musiman, tetapi setiap hari melayani kebutuhan masyarakat, sehingga kelancaran distribusi, kelengkapan produk, stabilitas harga, dan kenyamanan pengunjung menjadi prioritas utama.

"Dengan sinergi antara pemerintah, asosiasi, pelaku usaha, dan pengelola pusat perbelanjaan, kami optimistis program BINA Lebaran 2026 dapat semakin memperkuat konsumsi dalam negeri sekaligus memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Lenny.

Baca juga: Hippindo targetkan transaksi belanja saat Lebaran capai Rp50 triliun

Baca juga: Hippindo optimistis BBWI dan BINA tingkatkan pergerakan wisatawan

Baca juga: Pemerintah bidik belanja masyarakat akhir tahun capai Rp110 T

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.