Jika kawasan ini selesai, pesisir Ampenan tidak hanya berfungsi sebagai kampung nelayan tradisional, tetapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi yang lebih modern dan tertata
Mataram (ANTARA) - Deburan ombak di pesisir Ampenan dulu dikenal menenangkan. Bagi warga pesisir di Kota Mataram, suara itu adalah musik alam yang menemani aktivitas nelayan, pedagang ikan, hingga wisatawan yang datang menikmati senja.
Pantai itu juga menyimpan memori panjang sebagai simpul perdagangan sejak masa kejayaan Pelabuhan Ampenan, pelabuhan tua yang pernah menjadi gerbang ekonomi Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Namun beberapa tahun terakhir, bunyi ombak itu berubah makna. Bagi warga yang tinggal hanya beberapa meter dari bibir pantai, gelombang yang datang setiap musim angin barat tidak lagi sekadar irama alam, tetapi alarm bahaya.
Abrasi terus menggerus garis pantai, sementara air pasang kadang masuk ke halaman rumah bahkan menghanyutkan bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan laut.
Di kampung-kampung pesisir Ampenan, abrasi bukan lagi istilah dalam buku geografi. Ia hadir sebagai kenyataan yang merampas ruang hidup warga sedikit demi sedikit. Setiap musim angin barat, kekhawatiran itu kembali datang bersama gelombang yang lebih besar dari biasanya.
Di tengah situasi tersebut, kebutuhan akan infrastruktur pelindung pantai menjadi semakin mendesak. Tanpa penghalang yang memadai, energi gelombang langsung menghantam daratan dan mengikis fondasi bangunan.
Bagi warga, perlindungan pantai bukan lagi soal proyek pembangunan, melainkan soal rasa aman untuk tetap tinggal di kampung halaman.
Di sinilah konsep riprap, atau susunan batu pemecah gelombang, mulai dipandang sebagai solusi teknis sekaligus strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas kawasan pesisir.
Menjaga garis pantai
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.