Beijing (ANTARA) - Menteri Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa saat ini gencatan senjata menjadi hal prioritas di Iran.

"Posisi prinsip kami terhadap masalah Iran dapat diringkas dalam satu kalimat yaitu gencatan senjata dan penghentian perang. Seperti pepatah orang China kuno, senjata adalah alat pembawa malapetaka, tidak boleh digunakan tanpa pertimbangan matang," kata Menlu Wang Yi menjawab dalam konferensi pers soal "Kebijakan diplomasi dan hubungan luar negeri China" di Beijing, China pada Minggu.

Menghadapi Timur Tengah yang masuk ke dalam kobaran perang, Wang Yi mengatakan bahwa hal perang tersebut semestinya tidak terjadi.

"Perang juga yang tidak membawa manfaat bagi pihak mana pun. Sejarah Timur Tengah berulang kali mengungkapkan kepaa dunia bahwa kekuatan militer bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah, pertempuran senjata hanya akan menambah kebencian baru dan menumbuhkan krisis baru," jelas Wang Yi.

China, kata Wang Yi, ingin kembali menyerukan agar operasi militer segera dihentikan pencegahan eskalasi secara berulang, dan hindari meluasnya kobaran perang ke luar kawasan.

"Kami berpendapat bahwa dalam menangani secara benar dan tepat masalah Iran serta masalah terkait Timur Tengah, ada lima prinsip dasar harus dipegang teguh yaitu pertama, menghormati kedaulatan negara," kata Wang Yi.

Wang Yi menyebut kedaulatan adalah landasan tatanan internasional yang berlaku saat ini.

"Kami berpendapat bahwa kedaulatan, keamanan, dan keutuhan wilayah Iran serta negara-negara di kawasan Teluk harus dihormati dan tidak boleh dilanggar," tegas Wang Yi.

Kedua, tidak boleh menyalahgunakan kekuatan.

"Kepalan tangan yang keras tidak berarti kebenaran juga keras, dunia tidak boleh kembali pada hukum rimba. Sering kali menggunakan kekuatan bukanlah bukti kekuatan diri sendiri, dan rakyat tidak boleh menjadi korban tak berdosa dari perang," tambah Wang Yi.

Prinsip ketiga, tidak mencampuri urusan dalam negeri karena rakyat Timur Tengah sejatinya adalah pemilik sesungguhnya kawasan tersebut.

"Urusan Timur Tengah seharusnya diputuskan sendiri oleh negara-negara di kawasan. Merancang revolusi dan melakukan pergantian rezim tidak akan mendapat dukungan rakyat," ungkap Wang Yi.

Prinsip keempat adalah menyelesaikan masalah melalui jalur politik.

"China sejak dulu berpendapat bahwa perdamaian harus dijunjung tinggi. Semua pihak harus secepat mungkin kembali ke meja perundingan, menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang setara, dan berupaya mewujudkan keamanan bersama," tambah Wang Yi.

Kelima, negara-negara besar harus memainkan peran yang konstruktif dan menggunakan kekuatannya dengan itikad baik.

"China memiliki pepatah kuno lain: bila kebajikan dan keadilan tidak dijalankan, maka situasi menyerang dan bertahan akan berubah. Negara besar semestinya menjunjung keadilan, menempuh jalan yang benar, dan lebih banyak menyumbangkan energi positif bagi perdamaian dan pembangunan Timur Tengah," tambah Wang Yi.

Sebagai sahabat yang tulus dan mitra strategis negara-negara Timur Tengah, China, kata Wang Yi, bersedia bersama negara-negara Timur Tengah mempraktikkan Inisiatif Keamanan Global, mengembalikan ketertiban kepada Timur Tengah, mengembalikan ketenangan kepada rakyat, dan mengembalikan perdamaian kepada dunia.

Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 yang menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan setidaknya 926 orang di kalangan warga sipil.

Presiden AS Donald Trump mengatakan tujuan dari serangan itu adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir atau rudal balistik, dan menempatkan "seseorang yang rasional dan waras" untuk memimpin Iran, tulis laporan itu.

Iran sendiri telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tempat aset militer AS berada.

Baca juga: China dikabarkan mulai dukung Iran dalam konflik dengan AS-Israel

Baca juga: Negara-negara Asia mulai evakuasi warga dari Timur Tengah

Baca juga: China enggan jelaskan bentuk dukungan lain selain politik untuk Iran

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.