Bandarlampung (ANTARA) - Sebanyak 1.202 warga terdampak bencana banjir di Kota Bandarlampung mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat berupa beras dan uang tunai Rp1 juta.
"Total warga terdampak bencana itu ada 1.202 dari empat kecamatan yang terparah dampak banjirnya yakni, Rajabasa, Tanjung Senang, Sukarame dan Sukabumi," kata Wali Kota Bandarlampung, Eva Dwiana di Bandarlampung, Minggu.
Ia mengatakan bahwa bantuan yang diberikan ini merupakan langkah cepat pemerintah dalam membantu warganya usai banjir dan saat ini Pemkot Bandarlampung masih terus menunggu laporan tambahan dari pihak kecamatan soal data banjir.
"Untuk saat ini bantuan kami fokuskan kepada warga yang rumahnya terdampak langsung oleh banjir. Sementara yang hanya terdampak di bagian luar masih terus kita data. Jika ditemukan warga yang belum terjangkau, bantuan akan kembali disalurkan," kata dia.
Eva menyampaikan bahwa dalam peristiwa banjir yang terjadi pada Jumat (6/3) tercatat terdapat korban jiwa, namun tidak ada laporan yang terluka. Tim gabungan dari pemerintah daerah, camat setempat, serta tim dari BPBD turut membantu proses penanganan di lapangan.
"Soal banjir ini, kami juga terus melakukan perbaikan sistem drainase untuk mengurangi potensi banjir. Namun, penanganan secara menyeluruh membutuhkan keterlibatan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang menangani infrastruktur sungai dan pengendalian banjir," kata dia.
Menurutnya pula, permasalahan banjir di Bandarlampung ini juga memerlukan koordinasi lintas wilayah karena aliran air tidak hanya dari wilayah kota tetapi juga dari daerah sekitar seperti Pesawaran dan Lampung Selatan.
"Kalau semua pihak turun bersama, terutama balai, insya Allah penanganannya bisa lebih maksimal," kata dia.
Baca juga: Pemkot Bandarlampung beri bantuan korban terdampak banjir
Baca juga: 268 KK penyintas banjir di Nagan Raya Aceh sudah mulai tempati huntara
Baca juga: Banjir di Tol Jakarta-Tangerang akibat curah hujan tinggi
Pewarta: Dian Hadiyatna
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.