Kalau bobotnya tinggi dan kenaikan harganya tinggi, ini akan mendorong inflasi. Oleh sebab itu, komoditas dengan bobot konsumsi besar perlu dijaga harganya,

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga sejumlah bahan pangan utama karena memiliki bobot konsumsi terbesar dalam masyarakat dan berpotensi mendorong inflasi.

Dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin, Amalia menyebut bahwa berdasarkan keranjang konsumsi nasional, komoditas dengan bobot terbesar adalah beras, diikuti daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, serta daging sapi.

Menurutnya, komoditas dengan bobot konsumsi tinggi akan memberikan pengaruh besar terhadap inflasi apabila terjadi kenaikan harga.

"Kalau bobotnya tinggi dan kenaikan harganya tinggi, ini akan mendorong inflasi. Oleh sebab itu, komoditas dengan bobot konsumsi besar perlu dijaga harganya," katanya.

Baca juga: Seskab ikuti rapat pengendalian inflasi, fokus perkuat koordinasi

Ia menjelaskan, tekanan inflasi akan lebih mudah terjadi jika harga komoditas utama tersebut tidak terkendali.

Sebaliknya, kenaikan harga pada komoditas dengan bobot kecil dalam konsumsi masyarakat tidak akan terlalu berdampak besar terhadap inflasi.

Lebih lanjut, Amalia menyebut, pola konsumsi masyarakat di setiap daerah berbeda-beda. Secara nasional, komoditas dengan bobot terbesar dimulai dari beras, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, dan daging sapi.

Namun, di beberapa wilayah urutannya bisa saja berbeda. Ia mencontohkan, di Kepulauan Riau komoditas dengan bobot konsumsi terbesar setelah beras adalah daging ayam ras, kemudian cabai merah, dan telur ayam ras.

Baca juga: Mendagri fokuskan pengendalian komoditas pangan untuk jaga inflasi

"Jadi memang ini karakteristik dari konsumsi masyarakat, pola konsumsi masyarakat ini berbeda-beda. Oleh sebab itu, mungkin satu hal yang bisa kita sikapi adalah masing-masing kepala daerah nanti bisa melihat mana bobot terbesar dari konsumsi masyarakat," katanya.

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.