Jakarta (ANTARA) - PT Hotel Indonesia Natour atau InJourney Hospitality menyiapkan sejumlah strategi operasional dan pengalaman menginap khusus di Bali menyusul beririsan antara Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dan Hari Raya Nyepi tahun ini.

“Bali masih menjadi destinasi favorit pada periode Lebaran tahun ini. Kami memproyeksikan tingkat okupansi di Bali mencapai 64 persen,” ujar Direktur Utama InJourney Hospitality Christine Hutabarat dalam konferensi pers di Gedung Sarinah, Jakarta, Senin.

Ia mengatakan momentum tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi tingkat hunian hotel di Bali.

Menurut dia, perayaan Nyepi yang identik dengan penghentian seluruh aktivitas di luar ruangan membuat hotel harus memastikan kesiapan operasional secara menyeluruh, terutama terkait logistik dan layanan tamu.

Baca juga: The Ritz-Carlton, Bali, Perkenalkan Program Eksplorasi Budaya yang Penuh Makna

Ia menjelaskan manajemen menyiapkan buffer stok bahan makanan dan minuman sebesar 20 hingga 30 persen untuk mengantisipasi pembatasan distribusi selama Nyepi.

“Kami harus memastikan seluruh kebutuhan operasional sudah aman sebelum tanggal Nyepi, karena tamu tidak bisa keluar hotel dan aktivitas di luar sangat terbatas,” katanya.

Selain kesiapan logistik, perusahaan menghadirkan sejumlah paket tematik seperti “Silent Escape”, “Sekala Niskala”, dan “Silent Stay” yang dirancang agar tamu tetap memperoleh pengalaman menginap yang nyaman selama Nyepi.

Christine mengatakan konsep tersebut mengedepankan pengalaman yang lebih personal, termasuk aktivitas di dalam hotel, program kuliner, hingga layanan kebugaran dan relaksasi.

Baca juga: Kemenpar susun ulang Proper usai hotel di Bali berpredikat merah

InJourney Hospitality mengelola tujuh properti di Bali dari total 40 hotel yang tersebar di 15 provinsi. Secara keseluruhan, tingkat okupansi hotel pada periode Lebaran 2026 diproyeksikan mencapai 63 persen.

Ia menambahkan beririsan antara Lebaran dan Nyepi mendorong manajemen untuk memperkuat koordinasi lintas unit, termasuk penambahan tenaga musiman serta pemantauan operasional selama 24 jam.

“Kami ingin memastikan pengalaman tamu tetap seamless meskipun berada dalam periode hari besar keagamaan,” ujarnya.

Momentum tersebut, lanjut dia, diharapkan dapat menjaga minat wisatawan domestik untuk tetap memilih Bali sebagai destinasi utama libur Lebaran tahun ini.

Baca juga: ITDC ungkap hunian hotel di Nusa Dua Bali tumbuh positif pada 2025

Baca juga: PHRI Bali usul pemda beri insentif fiskal bagi hotel berenergi bersih

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.