Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan partisipasi perempuan dalam bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) merupakan investasi strategis untuk memperkuat daya saing dan inovasi bangsa Indonesia di masa depan.

Menurut dia, sejumlah data menunjukkan masih adanya kesenjangan gender dalam bidang STEM, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja. Padahal, sektor STEM merupakan fondasi utama bagi pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan transformasi digital.

"Banyak perempuan memiliki prestasi yang sangat baik di bidang sains dan matematika, tetapi mereka masih menghadapi hambatan sosial dan stereotip gender yang membatasi partisipasi mereka," kata Mbak Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, di Jakarta, Senin.

Dia memaparkan bahwa data International Labour Organization (ILO) pada 2024 menunjukkan bahwa perempuan hanya sekitar 35 persen dari lulusan STEM di Indonesia, sedangkan perempuan yang benar-benar bekerja di sektor tersebut hanya sekitar 8 persen.

Artinya, sebagian besar perempuan yang memiliki pendidikan STEM tidak berlanjut ke karier di bidang sains dan teknologi.

"Data ini menunjukkan persoalan utamanya bukan pada kemampuan akademik perempuan," katanya.

Menurut dia, hambatan tersebut sering muncul sejak usia dini melalui ekspektasi sosial yang membentuk kepercayaan diri anak perempuan terhadap bidang sains dan teknologi. Tanpa disadari, menurut dia, kondisi itu membuat banyak perempuan tidak melihat STEM sebagai jalur karier yang realistis bagi mereka.

Di sisi lain, Rerie mengatakan bahwa kebutuhan tenaga kerja berbasis teknologi terus meningkat seiring perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan.

Untuk itu, upaya memperluas partisipasi perempuan dalam STEM merupakan langkah strategis untuk memastikan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menghadapi perubahan global.

"Jika setengah potensi intelektual bangsa tidak diberi ruang yang sama untuk berkembang maka kita kehilangan peluang besar untuk memperkuat inovasi dan daya saing nasional," katanya.

Untuk itu, Rerie juga mendorong agar sistem pendidikan dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia memberi perhatian lebih pada penguatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi.

Sekolah dan perguruan tinggi, kata dia, perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, memberi ruang bagi perempuan untuk aktif dalam riset, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik.

Dia yakin pembangunan ekosistem pendidikan yang inklusif akan membuka peluang lebih luas bagi generasi muda perempuan untuk berkontribusi dalam inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan.

"Dengan membuka akses yang lebih luas bagi perempuan di bidang STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing," katanya.

Baca juga: Kemendiktisaintek imbau perempuan tak takut geluti STEM

Baca juga: DPR nilai pembangunan kampus STEM tingkatkan mutu pendidikan

Baca juga: Prabowo ingin mahasiswa penerima beasiswa diperbanyak, STEM prioritas

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.