Jika ada kendala, pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan BUMN pangan harus bergandeng tangan mencari solusi agar pasokan terjamin dan harga stabil,

Jakarta (ANTARA) - Pengamat pertanian dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Khudori menekankan, pentingnya kelancaran distribusi pangan untuk menekan inflasi yang meningkat selama Ramadhan.

Ia mencatat berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), sepuluh hari pertama puasa pada Februari 2026 inflasi sudah mencapai 0,68 persen. Dari kelompok pangan, penyumbang terbesar inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, ikan segar, dan tomat.

Khudori memperkirakan inflasi akan lebih tinggi pada Maret 2026. Merujuk data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 6 Maret 2026, rerata harga gula, bawang merah, telur, daging ayam, Minyakita, cabai rawit, serta beras medium dan premium masih berada di atas acuan maupun harga eceran tertinggi (HET).

Oleh karena itu, ia menilai distribusi dari sentra produsen ke konsumen harus dipastikan lancar, terutama untuk komoditas yang diproduksi dalam negeri.

Baca juga: Indef nilai stabilitas harga pangan dunia sinyal positif di Lebaran

“Jika ada kendala, pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan BUMN pangan harus bergandeng tangan mencari solusi agar pasokan terjamin dan harga stabil,” katanya.

Kemudian, untuk komoditas yang sebagian besar diimpor seperti bawang putih, Khudori mengatakan pemerintah harus memastikan barang segera masuk pasar dan tidak menumpuk di gudang importir.

“Otoritas pengawas harus memiliki data gudang berikut isinya. Tanpa itu pengawasan akan sulit dilakukan, bahkan mubazir,” ujarnya.

Selain itu, Khudori menekankan pentingnya menggelar bazar pangan murah dan gerakan pangan murah untuk membantu masyarakat.

Baca juga: BPS ingatkan kenaikan harga cabai rawit di sejumlah daerah

BUMN pangan seperti Bulog juga diminta mengoptimalkan operasi pasar beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) serta distribusi Minyakita.

“Penjualan beras SPHP yang stagnan di kisaran 4.000–5.000 ton per hari harus dievaluasi. Harga Minyakita yang masih di atas HET Rp15.700 per liter menandakan distribusi 35% minyak subsidi ini oleh Bulog dan ID Food belum menjawab masalah,” kata dia.

Ia juga menyoroti peran PT Berdikari yang merupakan BUMN di bawah holding ID Food dalam menjamin pasokan daging sapi dan kerbau.

Ia menyebut harga daging sapi masih sesuai acuan Rp130 ribu–Rp140 ribu per kilogram, tetapi harga daging kerbau melampaui acuan hingga lebih dari 40 persen.

Baca juga: BPS: Stabilitas harga pangan kunci kendalikan inflasi

“Tidak adil jika pelaku swasta diwajibkan menaati harga acuan, sementara BUMN justru dibiarkan melanggarnya,” katanya.

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.