Nah sekarang kita melakukan review progres programnya seperti apa dan saya melihat bagus sekali. Mudah-mudahan nanti bisa jadi contoh untuk diimplementasikan di 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia
Purbalingga (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi progres digitalisasi layanan kesehatan primer di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, yang dinilai berpotensi menjadi contoh penerapan di daerah lain di Indonesia.
Saat memberi keterangan pers di halaman Kantor Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Kabupaten Purbalingga, Selasa, Menkes mengatakan digitalisasi layanan di puskesmas dan posyandu tersebut merupakan bagian dari proyek Scalable Public Health Empowerment Research and Education Sites (SPHERES).
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) dan Kemenkes RI yang saat ini diuji coba di dua daerah, yakni Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Lombok Barat.
“Background-nya waktu itu kita adakan lomba, daerah mana yang komitmennya paling tinggi untuk program percontohan transformasi digital layanan primer di puskesmas dan posyandu. Alhamdulillah, yang menang dua bupati yaitu dari Lombok Barat dan Purbalingga,” kata Menkes Budi.
Baca juga: Kemenkes soroti pentingnya digitalisasi sektor kesehatan
Untuk itu Menkes telah mengunjungi sejumlah lokasi proyek SPHERES untuk meninjau perkembangan implementasi program, sekaligus mengevaluasi progres digitalisasi layanan kesehatan primer di kedua daerah tersebut.
Menurut dia, hasil peninjauan menunjukkan perkembangan yang cukup baik sehingga diharapkan dapat menjadi model penerapan bagi daerah lain di Indonesia.
“Nah sekarang kita melakukan review progres programnya seperti apa dan saya melihat bagus sekali. Mudah-mudahan nanti bisa jadi contoh untuk diimplementasikan di 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia,” kata Menkes.
Dalam hal ini, kata dia, Kemenkes menargetkan penerapan digitalisasi layanan kesehatan primer dapat dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu sekitar tiga tahun.
Lebih lanjut Menkes mengatakan penggunaan sistem digital tersebut tidak sekadar mengumpulkan data kesehatan masyarakat, juga memanfaatkan data itu untuk upaya pencegahan penyakit.
“Tujuannya data itu harus dipakai agar masyarakat kita lebih sehat, jangan sampai sakit. Misalnya penyakit darah tinggi yang banyak ditemukan, kalau dibiarkan bisa jadi stroke, jantung, atau ginjal. Dengan data itu kita bisa segera melayani dan memberi obat agar tekanan darahnya turun,” katanya.
Baca juga: Kemenkes tekankan digitalisasi dapat perbaiki layanan kesehatan
Dengan demikian, kata dia, masyarakat dapat terhindar dari komplikasi penyakit yang lebih berat sehingga tidak perlu sampai dirawat di rumah sakit.
Ia mengatakan sistem digital juga diharapkan dapat mengurangi beban administrasi tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas dan posyandu yang selama ini harus mengisi berbagai aplikasi dan laporan secara terpisah.
“Dengan ini diharapkan tenaga kesehatan bisa lebih banyak melayani masyarakat, bukan sibuk mengisi laporan atau aplikasi milik kementerian maupun pemerintah daerah,” kata Menkes.
Terkait dengan dampak positif proyek SPHERES Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif mengatakan program tersebut memberikan manfaat besar bagi pemerintah daerah karena menyediakan data kesehatan masyarakat guna membuat kebijakan dan program berdasarkan kondisi terkini.
Senada Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini mengatakan penerapan program tersebut juga membuat pelayanan kesehatan kepada masyarakat menjadi lebih cepat serta memungkinkan deteksi dini berbagai penyakit.
Baca juga: Menkes: Digitalisasi kesehatan berperan tingkatkan "trust" masyarakat
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.