Tulungagung (ANTARA) - Kala kebanyakan petani di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memilih menunda tanam, saat hujan turun deras, sebagian lain justru mengambil risiko: menanam bawang merah di tengah cuaca basah.
Di atas lahan hortikultura yang rentan genangan, keputusan itu kerap disebut sebagai perjuangan yang nekad dan hasilnya tidak selalu pasti. Meskipun demikian, di baliknya, tersimpan kalkulasi teknis dan pembacaan pasar yang tidak sederhana.
Pemandangan itu tampak di persawahan Desa Podorejo dan Junjung, Kecamatan Sumbergempol. Sejumlah buruh perempuan menanam bibit pada lubang-lubang bedengan berlapis mulsa plastik. Sementara di petak lain, rumpun bawang merah siap panen diangkat ke pematang.
Lanskap ini menjadi penanda bahwa sentra bawang merah Tulungagung belum sepenuhnya surut, sementara banyak petani bawang merah "tumbang" dan beralih ke komoditas padi dan palawija yang dinilai lebih minim risiko.
Data Dinas Pertanian Tulungagung menunjukkan, sepanjang 2025 luas tanam bawang merah mencapai 228,70 hektare, dengan luas panen 219,70 hektare.
Total produksi tercatat 2.151 ton, dengan produktivitas rata-rata 103,20 kuintal per hektare atau sekitar 10,3 ton per hektare (angka produktivitas atau rerata produksi di 11 kecamatan yang terdapat pertanian holtikultura bawang merah).
Sebaran produksi terkonsentrasi di sejumlah kecamatan. Sumbergempol menjadi sentra terbesar, dengan luas tanam 80 hektare dan produksi 5.920 kuintal.
Disusul Rejotangan seluas 51 hektare dengan produksi 5.490 kuintal, serta Ngunut 27 hektare, dengan produksi 2.700 kuintal.
Produktivitas tertinggi tercatat di Campurdarat yang mencapai 201,20 kuintal per hektare, jauh di atas rata-rata kabupaten.
Pada Januari–Februari 2026, tercatat 16 hektare lahan kembali memasuki masa tanam di enam kecamatan, antara lain Sumbergempol, Kalidawir, Rejotangan, Bandung, Pakel dan Gondang.
Dengan harga kisaran Rp25 ribu per kilogram, maka nilai ekonomi dari tanaman bawang merah yang berputar dapat mendekati Rp3,6 miliar hanya dalam satu siklus dua bulan.
Secara nasional, bawang merah termasuk komoditas strategis. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi nasional stabil di kisaran 1,9–2 juta ton per tahun.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga kerap memasukkan bawang merah sebagai komoditas pemicu inflasi, ketika pasokan terganggu. Artinya, dinamika panen di daerah, seperti Tulungagung, ikut berkontribusi terhadap stabilitas harga yang lebih luas.
Hanya saja, bertani bawang merah di saat hujan seperti sekarang sangat berisiko. Curah hujan tinggi memicu genangan, busuk akar, serta ledakan penyakit, seperti moler (fusarium).
Pengalaman musim sebelumnya (2025) menjadi pelajaran mahal bagi petani yang masih menggunakan pola lahan datar, tanpa drainase memadai. Sekali akar terendam dan pori tanah jenuh, suplai oksigen terganggu dan umbi cepat membusuk.

Bedengan mulsa
Bagi petani bawang merah yang sudah suka dengan komoditas bawang merah di Tulungagung, musim hujan bukan lagi sekadar fase risiko, melainkan fase yang menuntut rekayasa teknis.
Kegagalan musim sebelumnya (2025) yang dialami sebagian petani bawang merah di Desa Junjung akibat tidak menggunakan teknologi bedengan mulsa, menjadi titik balik.
Saat itu, sebagian lahan masih dikelola dengan pola datar, tanpa sistem drainase memadai. Hujan dengan intensitas tinggi membuat air menggenang berjam-jam, bahkan berhari-hari.
Akar bawang yang dangkal tidak mampu bertahan dalam kondisi tanah jenuh air, apalagi tidak ada sistem parit dalam yang membantu mengalirkan air.
Andi Daniar, ahli agronomis asal Blitar yang juga menggeluti dunia pertanian bawang merah secara langsung, menjelaskan, bedengan musim hujan idealnya dibuat setinggi 30–40 sentimeter dengan lebar menyesuaikan jarak tanam. Sementara parit di antaranya cukup dalam untuk menampung limpasan air hujan.
Prinsipnya sederhana. Air harus punya jalan keluar. Kalau air diam di sekitar akar lebih dari beberapa jam, risiko infeksi meningkat.
Secara fisiologis, bawang merah memerlukan aerasi tanah yang baik. Saat pori tanah terisi penuh oleh air, difusi oksigen terhambat.
Akar mengalami stres hipoksia, penyerapan unsur hara terganggu, dan jaringan menjadi rentan terhadap patogen tular tanah, seperti fusarium.
Dalam kondisi lembab ekstrem, jamur penyebab moler berkembang pesat dan menyerang jaringan pangkal batang bawang, hingga umbi membusuk.
Parit dalam berfungsi sebagai sistem drainase cepat. Begitu hujan reda, air dari permukaan bedengan langsung mengalir ke parit, tidak tertahan di zona perakaran.
Bedengan tinggi menjaga akar tetap berada pada lapisan tanah yang lebih kering dan berstruktur gembur.
Di atas bedengan itu, sebagian petani memasang mulsa plastik hitam perak (MPHP). Menurut Andi, fungsi mulsa lebih kompleks daripada sekadar menekan gulma.
Lapisan plastik mengurangi kontak langsung air hujan dengan tanah, sehingga percikan tanah yang kerap membawa spora penyakit ke daun dapat ditekan. Selain itu, mulsa membantu menjaga kelembaban tanah tetap stabil dan mengurangi pencucian unsur hara.
Air hujan di sejumlah wilayah memiliki sifat agak asam. Tanpa perlindungan, curah hujan tinggi dapat mempercepat pencucian kalsium, magnesium, dan unsur hara lain, sekaligus memicu fluktuasi pH tanah.
Dengan mulsa, dampak tersebut lebih terkendali. Aktivitas mikroorganisme menguntungkan di zona akar pun relatif lebih stabil karena suhu tanah tidak terlalu fluktuatif.
Bagi petani bermodal kuat, kombinasi parit dalam dan mulsa menjadi standar minimum musim hujan. Bagi yang terbatas, parit dan bedengan saja sudah dianggap penyelamat utama, selama pengawasan dilakukan ketat.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.