Jakarta (ANTARA) - Dokter Mata Subspesialis Glaukoma Zeiras Eka Djamal mengingatkan pentingnya deteksi dini untuk mencegah kerusakan penglihatan akibat glaukoma, karena kerusakan saraf optik itu dapat terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas.

Saat diskusi dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026 di Jakarta, Selasa, Dokter Mata Subspesialis Glaukoma sekaligus Kepala Klinik Mata JEC Cinere Dr. Zeiras Eka Djamal menjelaskan bawa glaukoma adalah penyakit kerusakan saraf mata yang menyebabkan terjadi gangguan pandangan bersifat progresif, kronik dan permanen yang biasanya disebabkan tekanan bola mata tinggi.

"Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga," jelasnya.

Dia menjelaskan mayoritas kasus glaukoma tidak memperlihatkan gejala sehingga deteksi biasanya terjadi ketika melakukan pemeriksaan kesehatan. Sekitar 80-90 persen kasus tidak terdeteksi, dengan lebih dari 3,6 juta orang secara global mengalami kebutaan akibat penyakit itu.

Glaukoma sendiri adalah penyebab kebutaan kedua. Dengan persentase di Indonesia penyebab kebutaan akibat glaukoma adalah 1,8 persen, penyebab paling besar kebutaan di Tanah Air masih disebabkan oleh katarak.

Beberapa faktor risiko penyebab glaukoma adalah faktor usia, diabetes melitus, obat yang mengandung steroid, memiliki minus tinggi atau plus jauh, katarak serta penyakit mata lainnya.

"Diagnosis glaukoma dilakukan melalui beberapa pemeriksaan mata, antara lain pengukuran tekanan bola mata (tonometri), pemeriksaan struktur saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang (visual field test atau perimetri) untuk menilai penglihatan tepi, serta pemeriksaan sudut drainase mata (gonioskopi)," jelasnya.

Setelah deteksi dapat dilakukan sejumlah terapi dam operasi. Meski operasi tidak dapat memperbaiki saraf yang sudah rusak karena tujuan dari operasi adalah mengontrol tekanan bola mata.

Terdapat beberapa jenis glaukoma termasuk Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaucoma) sebagai jenis yang paling umum, dan Glaukoma Primer Sudut Tertutup (Angle-Closure Glaucoma) yang dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur.

Ada pula jenis Glaukoma Kongenital yang terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata serta Glaukoma Sekunder akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.

Baca juga: 7 jenis gangguan penglihatan: Kenali penyebab dan cara mengatasinya

Baca juga: Muncul tanpa gejala, Glaukoma perlu deteksi dini guna cegah kebutaan

Baca juga: Jangan sampai buta, deteksi dini glaukoma

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.