Jika kita konsisten, Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana dunia digital membuka peluang untuk semua, terutama bagi setengah penduduk yang selama ini paling sering tertinggal: perempuan
Jakarta (ANTARA) - Setiap tanggal 8 Maret kita memperingati Hari Perempuan Internasional. Bila kita hubungkan dengan dunia digital, saat ini, maknanya semakin terasa. Internet, kini ibarat jalan raya utama tempat orang belajar, bekerja, membangun usaha, hingga mengakses layanan penting di berbagai bidang, seperti kesehatan dan perbankan.
Meskipun demikian, tidak semua orang bisa melintas di jalan ini dengan mudah, terutama kalangan perempuan. Masih ada kesenjangan, siapa yang bisa terhubung, siapa yang mampu membayar, dan siapa yang memiliki keterampilan untuk menggunakan teknologi secara aman dan bermanfaat.
Di Indonesia dan di banyak negara lain, kesenjangan ini memang mulai mengecil, tetapi belum benar-benar tertutup. Karena itu, momentum Hari Perempuan Internasional mendorong kita untuk memastikan jalan digital ini dapat diakses oleh semua, termasuk kaum perempuan, tanpa hambatan.
Angka global terbaru menunjukkan, laki-laki yang memakai internet lebih banyak daripada perempuan. Pada 2024, sekitar 70 persen laki-laki menggunakan internet, sementara perempuan 65 persen. Artinya, ada selisih sekitar 189 juta orang. Dan jurang ini paling terasa di negara berpendapatan rendah. Di sana, hanya 27 persen penduduk yang online, jauh tertinggal dari negara maju. Jadi, walau dunia makin digital, sebagian besar perempuan di negara berpendapatan rendah belum bisa ikut mengambil peran.
Kabar baiknya, di negara berkembang, perempuan mulai mengejar. Laporan terakhir dari BCG menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan mulai mengecil, dari 19 persen (2022) menjadi 15 persen (2023).
Indonesia termasuk yang mendorong perbaikan kesetaraan penggunaan internet ini. Meskipun begitu, masih ada sekitar 785 juta perempuan yang belum bisa menikmati fasilitas daring tersebut. Banyak yang terhambat karena belum punya ponsel pintar (smartphone) atau kuota internet yang tergolong masih mahal untuk dijangkau.
Untuk menutup jurang ini, bukan sekadar "isu perempuan". Hitung-hitungannya jelas: jika perempuan mendapat akses digital yang sama, ekonomi dunia bisa bertambah sekitar 1,5 triliun dolar AS dan puluhan juta perempuan bisa keluar dari kemiskinan sebelum 2030. Ada juga sisi keadilan sosial.
Laporan Forum Ekonomi Dunia menyebut, bila kita melaju seperti sekarang, butuh 134 tahun untuk mencapai kesetaraan penuh antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi, pendidikan, dan kepemimpinan. Itu artinya anak cucu kita masih akan membahas hal yang sama jika kita tidak mempercepat langkah, terutama lewat jalur digital yang pertumbuhannya paling cepat.
Tantangan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.