Jakarta (ANTARA) - PT PAM Jaya (Perseroda) tengah menciptakan inovasi keberlanjutan untuk mengurangi sampah plastik hingga mengembangkan teknologi menciptakan air dengan menangkap partikel air dari udara.
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, pihaknya berencana memproduksi air minum kemasan ramah lingkungan menggunakan kemasan berbahan kertas agar tak lagi menggunakan air minum berkemasan plastik.
“Nanti ada air kemasan dari kita, tapi kemasannya kertas. Kita nggak pakai plastik,” kata Arief di Balai Kota, Rabu.
Menurut Arief, air minum tersebut nantinya akan dikemas menggunakan bahan kertas yang berbasis kertas sehingga lebih mudah didaur ulang dibandingkan botol plastik sekali pakai.
Baca juga: Cakupan PAM Jaya sudah 80 persen, zona bebas air tanah perlu diperluas
Sebelum dijual ke masyarakat, produk tersebut akan diuji coba terlebih dahulu di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama untuk kebutuhan rapat atau kegiatan resmi.
“Saya rencananya mau memberikan pemerintah DKI, Pemprov itu nggak boleh pakai air kemasan plastik lagi dan kita mau 'trial free',” ungkap Arief.
Arief berharap kehadiran air minum kemasan kertas dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi penggunaan botol plastik yang selama ini banyak digunakan dalam berbagai kegiatan perkantoran.
“Harapannya nanti setiap rapat di lingkungan pemerintah tidak lagi menggunakan air kemasan plastik,” ujar Arief.
Baca juga: Warga Tambora keluhkan air PAM kotor dan berbau
Tak hanya dari segi kemasan, PAM Jaya juga tengah mengembangkan teknologi yang mampu menghasilkan air minum dengan menangkap kandungan air dari udara. Teknologi tersebut rencananya ditempatkan di kawasan Sudirman-Thamrin.
Dengan adanya teknologi itu, nantinya warga bisa langsung mengonsumsi air tanpa perlu dimasak.
“Nanti kami akan punya alat yang namanya 'trapping atmosphere'. Jadi dia itu 'water trapping atmosphere', dia tidak ada sumber airnya tapi bisa menciptakan air,” katanya.
Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.