Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari mengimbau atlet berani melapor jika mengalami tindakan kekerasan atau pelecehan.
"Jangan diam karena setiap suara itu bisa mewakili teman-teman lain yang mungkin hari ini ada yang diam (tidak berani melapor)," kata Oktohari kepada awak media dalam acara perayaan HUT ke-74 KOI di Jakarta, kemarin.
Dia menyampaikan hal itu berkaitan dengan munculnya kasus dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap atlet panjat tebing dan kickboxing.
Dia mengapresiasi para atlet dan pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) yang sudah berani bersuara melawan dugaan kekerasan fisik dan pelecehan terhadap oleh kepala pelatih.
Setelah itu muncul lagi laporan dugaan pelecehan seksual dari atlet kickboxing.
Dia menjelaskan KOI memiliki Program Safeguarding yang melindungi semua insan olahraga dari kekerasan, pelecehan, diskriminasi, dan bentuk penyalahgunaan lainnya.
Baca juga: Menpora sebut pelecehan seksual atlet adalah perbuatan jahanam
Setiap cabang olahraga, kata dia, juga telah berkoordinasi dengan KOI untuk memiliki Program Safeguarding.
Oktohari mengimbau semua atlet, ofisial, dan pihak lain agar berani berbicara atau melapor jika mengalami perlakuan yang tidak sesuai, melanggar norma, kekerasan, apalagi pelecehan seksual.
Dia berharap kasus di cabang panjat tebing dan kickboxing merupakan yang terakhir terjadi dalam dunia olahraga Indonesia.
"Tapi kalau sampai terjadi lagi, bicara (melapor) saja, kita semua, insyaallah siap mengawal sampai ujung karena perbuatan biadab harus dihapus dari olahraga kita," katanya.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengapresiasi KOI yang bekerja sama dengan Olympic Council of Asia (OCA) menghadirkan Safeguarding untuk melindungi insan olahraga di Indonesia.
"Kami juga mengambil posisi yang tegas dalam hal perlindungan atlet kita yang sudah banyak berkorban," kata Erick.
Baca juga: Ketua KONI minta pengurus 81 federasi cegah pelecehan seksual atlet
Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.