sehingga pembiayaan proyek energi terbarukan dapat dilakukan secara lebih inovatif dan berkelanjutan
Jakarta (ANTARA) - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mengusulkan skema pembiayaan campuran (blended financing) yang menggabungkan instrumen Sukuk dengan dana sosial syariah guna memperkuat pembiayaan proyek energi surya di Indonesia.
Direktur Jasa Keuangan Sosial Syariah KNEKS Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan skema pembiayaan campuran tersebut, yang memadukan instrumen pembiayaan komersial dengan instrumen sosial syariah, mampu membuka peluang pembiayaan yang lebih inovatif bagi pengembangan energi terbarukan.
“Ke depan kita bisa mengembangkan skema blended financing antara Sukuk dengan instrumen keuangan sosial syariah, sehingga pembiayaan proyek energi terbarukan dapat dilakukan secara lebih inovatif dan berkelanjutan,” ujar Dwi dalam keterangan diterima di Jakarta, Kamis.
Dalam diskusi bertajuk “Green Sukuk untuk Transisi Energi: Model Pembiayaan Inovatif bagi Program 100 GW Energi Surya" , dia mengatakan selain Sukuk Hijau (green sukuk), sumber pembiayaan energi terbarukan juga dapat berasal dari cash waqf linked sukuk (CWLS), zakat, maupun dana sosial lainnya.
Ia menilai kombinasi instrumen tersebut dapat menjadi alternatif untuk memperluas sumber pendanaan proyek energi terbarukan yang selama ini masih banyak bergantung pada pembiayaan konvensional.
Dwi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi dana sosial syariah yang cukup besar yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Potensi zakat nasional diperkirakan mencapai sekitar Rp327 triliun per tahun, sedangkan potensi wakaf uang diperkirakan mencapai sekitar Rp180 triliun.
“Potensi ini bisa dimobilisasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk pengembangan energi surya,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti peluang pemanfaatan aset wakaf untuk pembangunan infrastruktur energi terbarukan, termasuk instalasi panel surya yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Di kesempatan yang sama, Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Deni Ridwan, mengatakan instrumen pembiayaan syariah menjadi salah satu opsi yang digencarkan pemerintah untuk mendorong pembangunan ekonomi hijau. Terlebih, Indonesia merupakan salah satu pionir penerbitan Sukuk Hijau di pasar global.
Instrumen tersebut, ujar dia, telah dimanfaatkan untuk membiayai berbagai proyek ramah lingkungan, mulai dari energi terbarukan, transportasi rendah karbon, hingga pengelolaan limbah dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.
“Proyek-proyek yang didukung pembiayaan green sukuk telah berkontribusi pada penurunan emisi karbon lebih dari 10 juta ton karbon dioksida,” kata Deni.
Selain mendukung pembiayaan proyek hijau, penerbitan green sukuk juga membuka peluang untuk memperluas basis investor yang memiliki perhatian terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Dengan demikian, instrumen ini dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan yang strategis dalam mendukung agenda transisi energi nasional.
Peran Energi Terbarukan
Tenaga Ahli Deputi Bidang Pengembangan Koperasi Kementerian Koperasi, Roy Abimanyu mengatakan program-program energi terbarukan juga berpotensi menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat di pedesaan.
Karena itu, akses energi yang memadai menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas usaha di tingkat desa, termasuk bagi sektor perikanan dan usaha kecil.
Ia mencontohkan pengembangan pembangkit energi surya berbasis microgrid di beberapa wilayah kepulauan yang selama ini memiliki keterbatasan akses listrik.
Pemanfaatan energi surya tersebut, kata dia, dapat digunakan untuk mendukung berbagai fasilitas produksi seperti lemari pendingin, pabrik es, maupun pengolahan hasil perikanan yang berpotensi meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat pesisir.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor keuangan, lembaga keagamaan, dan masyarakat, berbagai instrumen pembiayaan hijau dan syariah diharapkan dapat menjadi katalis dalam mempercepat investasi energi terbarukan sekaligus mendukung pencapaian target emisi nol bersih nasional.
Baca juga: IIF dorong pembiayaan hijau, 22 persen portofolio ke energi terbarukan
Baca juga: SMI salurkan pembiayaan 144,9 juta dolar AS bagi pembangunan PLTP Ijen
Baca juga: Ekonom : Danantara bisa percepat pembiayaan transisi energi
Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.